Wawali Solo Dorong Museum Jadi Bagian Center of Knowledge
- 09 Agt 2026 15:16 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Pemerintah Kota Surakarta mendorong museum menjadi bagian dari Solo sebagai Center of Knowledge (pusat pengetahuan). Museum tidak hanya diposisikan sebagai ruang budaya, tetapi juga tempat masyarakat mendapatkan pengetahuan sejarah yang dapat dikembangkan dan dikaitkan dengan kebutuhan masa kini.
Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani mengatakan konsep Center of Knowledge memanfaatkan potensi sumber daya manusia serta sarana dan prasarana yang dimiliki Kota Solo. Museum menjadi salah satu fasilitas yang dapat mendukung pengembangan pengetahuan masyarakat.
“Center of Knowledge itu dasarnya adalah potensi atau sumber daya yang ada di Kota Solo yang berkaitan dengan sumber daya manusia ditambah dengan fasilitas sarana prasarana penunjang yang ada di Kota Solo,” kata Astrid, Minggu 9 Agustus 2026.
Menurut Astrid, pusat pengetahuan tersebut tidak hanya bertumpu pada sekolah dan perguruan tinggi. Museum seperti Museum Keris Nusantara, Museum Tahir, dan Museum Radya Pustaka juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran.
“Selain sekolah, kampus, tetapi juga adanya banyak museum yang berkaitan dengan pembelajaran seperti di Solo ada Museum Keris, ada Museum Tahir, ada Radya Pustaka dan museum-museum lain sehingga ini tidak sekadar sebagai ruang budaya ya tetapi ruang pembelajaran,” ujarnya.
Astrid mengatakan pengetahuan yang tersimpan di museum dapat dikembangkan agar memiliki relevansi dengan kondisi saat ini. Kajian sejarah dan budaya juga diharapkan dapat menjadi dasar untuk melahirkan inovasi di masa depan.
“Dari kajian-kajian yang ada di dalamnya dikembangkan lagi untuk wawasan di masa lalu, bagaimana kita juga bisa relevansikan di masa kini dan juga menyesuaikan inovasi-inovasi di masa depan,” ucapnya.
Kepala UPTD Museum Kota Solo, Bonita Rintyowati mengatakan Museum Keris Nusantara juga terus membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal berbagai aspek pusaka Nusantara. Edukasi tidak hanya dilakukan melalui koleksi, tetapi juga melalui kegiatan kajian dan seminar.
“Jadi memang kami membuka ruang kepada semua komunitas yang berhubungan dengan senjata Nusantara,” kata Bonita.
Menurut Bonita, kegiatan kajian menjadi bagian dari upaya museum memperluas pemahaman masyarakat terhadap sejarah pusaka. Dalam rangkaian HUT ke-9, museum juga menggelar seminar hasil kajian pedang Nusantara.
Bonita menilai pengetahuan mengenai keris perlu disampaikan tidak hanya dari sisi benda koleksi, tetapi juga sejarah dan peradaban yang melatarbelakanginya. Dengan demikian, museum dapat menjadi tempat masyarakat memahami pengetahuan budaya secara lebih utuh.
“Makanya kami ingin mengenalkan itu. Jadi sejarah tapi ada peradaban zaman dahulu supaya dikenal,” ujarnya.
Penguatan museum sebagai bagian Center of Knowledge diharapkan dapat mempertemukan fungsi pelestarian budaya dengan pendidikan. Pendekatan tersebut juga diarahkan untuk membuat museum lebih relevan bagi generasi muda dan masyarakat luas. (Reza)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....