Pemkab Sragen Alokasikan Rp27 Miliar untuk Rehab 1.175 Ruang Kelas Rusak
- 05 Agt 2026 16:14 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen menegaskan komitmennya dalam membenahi infrastruktur pendidikan. Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, menyatakan bahwa perbaikan gedung sekolah rakyat menjadi prioritas utama guna memastikan keamanan serta kenyamanan proses belajar mengajar di wilayah Kabupaten Sragen.
Berdasarkan pendataan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sragen, tercatat sebanyak 1.175 ruang kelas jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengalami kerusakan, mulai dari tingkat ringan, sedang, hingga berat.
Untuk menangani permasalahan tersebut, Pemkab Sragen telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp27 miliar pada APBD 2026.
Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, mengungkapkan bahwa Pemkab Sragen telah memiliki basis data komprehensif terkait kondisi sekolah-sekolah yang membutuhkan penanganan segera, khususnya bagi bangunan yang masuk kategori darurat.
"Kita sudah memiliki basis data sekolah yang rusak yang perlu diperbaiki dan dibereskan. Pemerintah Kabupaten Sragen sendiri sudah menganggarkan untuk perbaikan sekolah-sekolah itu, terutama yang dalam situasi darurat. Beberapa sekolah sudah saya tinjau langsung untuk memastikan bahwa memang harus segera diperbaiki," ujar Sigit, Selasa 4 Agustus 2026.
Sigit menjelaskan bahwa mayoritas kerusakan fasilitas sekolah dipicu oleh faktor usia bangunan. Banyak gedung sekolah di Sragen yang didirikan pada era Instruksi Presiden (Inpres) tahun 1970-an hingga 1980-an, sehingga strukturnya kini mulai lapuk.
Mengingat keterbatasan anggaran, pembenahan gedung sekolah dilakukan secara bertahap dengan skala prioritas yang ketat. Penanganan difokuskan pada fasilitas yang membahayakan keselamatan siswa dan guru.
"Tentu tidak bisa tuntas sekaligus dalam empat tahun, tetapi kita optimalkan dana yang ada. Prioritas utama diberikan kepada sekolah dengan kerusakan paling parah atau rusak berat, seperti atap yang lapuk atau dinding retak yang membahayakan proses belajar mengajar. Baru setelah itu menyasar sekolah dengan kerusakan minor," katanya menjelaskan.
Lebih lanjut, Bupati menekankan pentingnya keseimbangan antara perbaikan infrastruktur fisik dan peningkatan mutu pembelajaran. Menurutnya, fasilitas sekolah yang memadai akan menjadi daya tarik tersendiri bagi calon siswa, sekaligus menopang kualitas pendidikan secara keseluruhan.
Sigit juga memastikan program sekolah unggulan yang memicu kenaikan minat siswa akan terus dilanjutkan dan ditingkatkan setiap tahunnya sebagai warisan (legacy) kebijakan yang baik.
Sekretaris Disdikbud Sragen, Sukisno, memaparkan rincian pendataan ruang kelas rusak. Untuk jenjang SD, terdapat 785 ruang kelas yang mengalami kerusakan, meliputi 280 ruang rusak berat, 266 ruang rusak sedang, dan 239 ruang rusak ringan.
"Pada tahun 2025, sebanyak 136 ruang kelas SD telah selesai direhabilitasi. Sementara untuk tahun 2026, kita menargetkan perbaikan 150 ruang kelas SD dengan dukungan anggaran sekitar Rp19 miliar," ucap Sukisno.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Sragen, Muh. Farid Wajdi, menambahkan bahwa untuk jenjang SMP negeri tercatat ada 390 ruang kelas rusak dari total 905 ruang di 49 sekolah. Pada tahun 2025, sebanyak 55 ruang telah diperbaiki. Untuk tahun 2026, disiapkan anggaran sekitar Rp8 miliar untuk merehabilitasi 26 ruang kelas (12 ruang dari APBD dan 14 ruang dari dana revitalisasi).
"Sebagian besar kerusakan dipicu faktor usia bangunan, terutama struktur atap yang lapuk akibat dimakan rayap maupun rengas," kata Farid.
Untuk pelaksanaan pengerjaan rehabilitasi gedung sekolah, Disdikbud Sragen menerapkan mekanisme Elektronik Penunjukan Langsung (e-PL) untuk paket pekerjaan di bawah Rp400 juta serta mekanisme lelang, sesuai dengan regulasi pengadaan barang dan jasa pemerintah yang berlaku. MI
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....