1.175 Ruang Kelas Sekolah di Sragen Rusak, Perbaikan Diprioritaskan Bertahap

  • 05 Agt 2026 14:15 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen terus mematangkan langkah inventarisasi dan pemetaan terhadap ribuan ruang kelas sekolah yang mengalami kerusakan. Langkah ini dilakukan guna menyusun skala prioritas perbaikan bangunan sekolah tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) secara bertahap.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sragen, tercatat sebanyak 1.175 ruang kelas mengalami kerusakan dengan tingkatan bervariasi, mulai dari rusak ringan, sedang, hingga berat.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sragen, Hargiyanto, menegaskan bahwa penanganan sekolah rusak menjadi prioritas Pemkab yang terus dialokasikan, baik melalui APBD murni maupun APBD Perubahan secara berkelanjutan.

"Anggaran APBD murni dan perubahan semuanya ada. Penetapan ada, perubahan ini ada, penetapan berikutnya juga ada. Kerusakan yang diprioritaskan seperti atap ambrol, dinding retak, hingga genteng rusak," ujar Hargiyanto saat dikonfirmasi wartawan, Rabu 5 Agustus 2026.

Hargiyanto menjelaskan, pembenahan fisik ini juga menjadi langkah antisipasi agar tidak ada lagi kasus bangunan sekolah yang roboh. Menurutnya, mayoritas bangunan sekolah di Sragen telah berusia antara 25 hingga 30 tahun sehingga membutuhkan rehabilitasi secara bertahap.

"Sebelum kasus sekolah roboh pun sebenarnya pembenahan sudah berjalan. Bangunan ini kan rata-rata sudah 25-30 tahun. Karena jumlah sekolah di Sragen banyak, hampir 600 sekolah, tentu perbaikannya tidak bisa sekaligus (serentak), tetapi bertahap," katanya menjelaskan.

Guna menangani ribuan ruang kelas yang rusak tersebut, Pemkab Sragen menyiapkan alokasi anggaran sekitar Rp27 miliar pada APBD 2026 yang dikhususkan untuk rehabilitasi ruang kelas SD dan SMP.

Terpisah Sekretaris Disdikbud Sragen, Sukisno, memaparkan bahwa dari total ruang kelas SD yang rusak, sebanyak 785 ruang tercatat mengalami masalah fisik. Rinciannya meliputi 280 ruang rusak berat, 266 ruang rusak sedang, dan 239 ruang rusak ringan.

"Pada 2025, sebanyak 136 ruang kelas SD telah selesai direhabilitasi. Penanganan berlanjut pada 2026 dengan target 150 ruang kelas diperbaiki menggunakan dukungan anggaran sekitar Rp19 miliar," kata Sukisno.

Sementara untuk jenjang SMP, dari total 905 ruang kelas di 49 SMP negeri, tercatat 390 ruang kelas mengalami kerusakan. Sebanyak 55 ruang di antaranya telah selesai diperbaiki pada 2025 melalui skema APBD, dana revitalisasi, hingga bantuan presiden.

"Pada 2026, pemerintah kembali mengalokasikan perbaikan untuk 26 ruang kelas SMP, terdiri dari 12 ruang dibiayai APBD dan 14 ruang dari dana revitalisasi," ucap dia.

Kerusakan pada bangunan SD maupun SMP di Sragen mayoritas dipicu oleh faktor usia material bangunan yang termakan usia. Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Sragen, Muh. Farid Wajdi, menyebutkan bahwa struktur atap kerap menjadi titik yang paling rapuh akibat serangan rayap maupun keropos.

"Untuk rehabilitasi ruang kelas SMP pada 2026, anggaran yang disiapkan sekitar Rp8 miliar," kata Farid.

Mengenai pengerjaan proyek perbaikan fisik, Disdikbud menerapkan skema pengadaan secara elektronik untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas.

"Mekanisme pekerjaan rehab ruang kelas yang rusak tidak secara swakelola, tetapi melalui electronic penunjukan langsung (e-PL). Untuk batas nilai PL saat ini bisa mengakomodasi pengerjaan hingga di bawah Rp400 juta. Kalau swakelola biasanya khusus untuk anggaran yang bersumber dari pusat," katanya. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....