Program Makan Bergizi Gratis Diliburkan, Harga Ayam dan Telur Terjun Bebas

  • 03 Jul 2026 18:56 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Berhentinya pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa liburan sekolah turut berdampak pada penurunan serapan komoditas peternakan, khususnya ayam broiler dan telur.

Kondisi ini memperparah tren penurunan harga yang sebelumnya telah terjadi akibat kelebihan pasokan atau over supply di tingkat nasional.

Dihubungi melalui sambungan telepon pada Rabu, 1 Juli 2026, Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Tengah, Parjuni, mengatakan bahwa penurunan harga sebenarnya telah terjadi sejak Mei 2026, jauh sebelum program MBG dihentikan sementara.

"Faktor utama adalah over supply. Jadi artinya supply itu lebih besar daripada kebutuhan pasar. Ini sebenarnya sudah sejak bulan Mei, baik petelur maupun broiler sudah di bawah harga pokok produksi. Adanya MBG memang sedikit membantu penyerapan, dan saat dihentikan sementara tentu mempengaruhi penyerapan di masyarakat," kata Parjuni.

Parjuni menjelaskan, harga ayam hidup pada Juni 2026 bahkan turun hingga kisaran Rp13.000 sampai Rp15.000 per kilogram, jauh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) yang berada pada rentang Rp19.500 hingga Rp21.000 per kilogram.

Di sisi lain, biaya produksi justru meningkat akibat kenaikan harga pakan yang dipengaruhi mahalnya bahan baku dan fluktuasi nilai tukar dolar. Namun demikian, Parjuni menilai penghentian sementara program MBG bukanlah penyebab utama keterpurukan harga unggas.

Dirinya menegaskan bahwa pelaku usaha tidak seharusnya menggantungkan stabilitas harga sepenuhnya pada program pemerintah, melainkan harus menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar.

"MBG menurut saya tidak perlu menjadi masalah utama. Harusnya program ini hanya mengangkat harga dari yang sudah untung menjadi lebih untung. Jangan kemudian populasi dibiarkan tumbuh seenaknya, lalu ketika program berhenti justru menyalahkan program tersebut," katanya menambahkan.

Parjuni berharap pemerintah dapat memperkuat pengawasan terhadap rantai produksi unggas dan menegakkan regulasi yang mengatur keseimbangan pasokan. Dirinya juga mengimbau para peternak untuk melakukan pengurangan populasi secara terukur agar pasokan kembali seimbang dengan permintaan pasar. (JK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....