Harga Sayuran Anjlok, Petani Karanganyar Pilih Bagikan Hasil Panen Secara Gratis
- 29 Jun 2026 22:03 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Karanganyar - Harga sejumlah komoditas sayur di Kabupaten Karanganyar mengalami penurunan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah jenis sayuran daun mengalami kemerosotan nilai jual yang cukup dalam, hingga menyentuh angka terendah Rp1.000 per kilogram di tingkat petani.
Situasi ini berdampak langsung pada stabilitas ekonomi di tingkat hulu. Nilai jual yang rendah di pasaran saat ini dinilai tidak lagi sebanding dengan tingginya biaya produksi modal awal serta ongkos upah tenaga kerja untuk pemetikan lahan, sehingga para petani harus menghadapi risiko kerugian finansial yang tidak sedikit.
Tardi, salah seorang petani sayur di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, mengungkapkan penurunan harga paling signifikan terjadi pada komoditas sawi sendok dan sawi bakso. Ia menjelaskan, dalam kondisi normal harga kedua sayuran tersebut mampu bertahan di kisaran Rp5.000 hingga Rp8.000 per kilogram, namun saat ini merosot hingga menyisakan seribu rupiah.
"Kalau sawi sendok sama sawi bakso tinggal Rp1.000 per kilogram. Yang masih lumayan cuma kubis sama paprika, itu pun sedikit," ucapnya saat dikonfirmasi wartawan, Senin 29 Juni 2026.
Kondisi dilematis ini pada akhirnya memicu munculnya gerakan sosial di lapangan, di mana sebagian petani memilih untuk mendonasikan hasil bumi mereka secara cuma-cuma daripada melepasnya ke pasar dengan harga yang sangat murah.
Langkah ini juga dilakukan oleh petani lain, Sudarmini Astuti, petani asal Desa Bandar Dawung, Kecamatan Tawangmangu. Menghadapi kenyataan, harga sawi hijau di lahannya ikut ambles ke kisaran Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogram, ia memutuskan untuk tetap memanen seluruh tanamannya guna dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
"Saya enggak mau mubazir karena barangnya masih bagus. Daripada saya jual terlalu murah, lebih baik saya kasihkan ke orang yang membutuhkan," ucapnya.
Sudarmini menyalurkan sedikitnya dua ton sawi hijau segar untuk disalurkan secara bertahap kepada warga sekitar, jaringan kerabat di Sragen dan Yogyakarta, hingga ke sejumlah pondok pesantren. Bagi Sudarmini, menyedekahkan hasil bumi yang kualitasnya masih prima jauh lebih memberikan ketenangan batin ketimbang membiarkannya telantar di ladang.
"Hari ini panen saya kasih ke satu tempat, besok panen lagi saya kasih ke tempat lain. Yang penting enggak mubazir dan masih bisa dimanfaatkan orang lain," katanya.
Sudarmini menambahkan tidak semua rekan seprofesinya mengambil langkah serupa di tengah kemerosotan harga ini. Di sekitar area lahannya, beberapa petani memilih bersikap pasrah dan membiarkan tanaman hortikultura mereka, seperti mentimun dan sawi, rontok membusuk di tanah karena ketiadaan anggaran untuk mengupah buruh petik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....