Sempat Ada Penolakan, Akhirnya Pemkot Solo Mulai Pembangunan Gereja di Mojo

  • 20 Jun 2026 09:43 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Pemerintah Kota (Pemkot) Solo melalui melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, serta Pertanahan (Disperumkimtan), mulai membangun Gereja Bethel Indonesia Jemaat Mojo di Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon.

Pembangunan dimulai dengan peletakan batu pertama yang dilakukan Wali Kota Respati Ardi bersama jajaran Forkopimda (Forum Koordinasi Pimpinan Daerah), Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Solo HM Mashuri, Wakil Ketua DPRD Solo Muhammad Bilal hingga Pendeta Gereja Bethel Indonesia Jemaat Mojo Chris Yehuda.

Ditemui setelah acara, Wali Kota Solo, Respati Ardi menegaskan bahwa pembangunan tempat ibadah ini menjadi titik penting bagi kerukunan antar umat beragama. Dirinya juga mengajak seluruh masyarakat untuk turut mengawal progres pembangunan.

"Mari kita kawal bersama, jika semuanya persyaratan sudah dilengkapi dan ada komunikasi yang baik, saya rasa ini menajdi titik penting bagi kerukunan, kebersamaan antar pemeluk agama di Kota Solo," kata Respati Ardi.

Gereja yang dibangun di atas lahan milik Pemkot Solo seluas 6,5 meter x 22 meter ini rencananya baru akan selesai hingga empat bulan ke depan dengan menggunakan dana APBD. Pembangunan sendiri sempat terhambat karena adanya penolakan dari beberapa masyarakat.

Namun setelah memperoleh Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dari Pemerintah Kota Solo, akhirnya progres pembangunan bisa mulai dilaksanakan. Menanggapi sempat adanya penolakan masyarakat, Respati menjelaskan bahwa kepentingan umum jauh lebih penting dari segalanya.

"Kami memberikan kebebasan berpendapat, tetapi musyawarah mufakat dan mengedepankan kepentingan umum jauh lebih penting dari segalanya," katanya menambahkan.

Dikatakan mantan Ketua HIPMI Solo ini juga, pembangunan gereja telah melalui perjalanan panjang sejak pemerintahan Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka. Kini pembangunan gereja mulai diselesaikan dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap sesama.

Sementara itu, Pendeta Gereja Bethel Indonesia Jemaat Mojo, Chris Yehuda juga membenarkan bahwa sebelumnya sempat terhambat dalam pembangunan gereja karena adanya penolakan. Namun dirinya mengatakan hal tersebut sangat wajar terjadi.

"Selama ini berjalan dengan baik, kalau ada sedikit penolakan dari beberapa orang kan biasa, bukan hal yang kita anggap sulit. Jadi setelah kami urus semua dengan bantuan dari temen-temen yang terkait termasuk Wali Kota Solo, mereka iktu membantu," ucap Chris Yehuda.

Pendeta Gereja Bethel Indonesia Jemaat Mojo, Chris Yehuda juga menjelaskan bahwa ada sekitar 100 jemaat yang nantinya akan mempergunakan gereja untuk beribadah.

Gereja sendiri sebenarnya dahulu sudah pernah terbangun pada tahun 2000an, namun harus dibongkar karena adanya proyek penataan kawasan kumuh di area lokasi yang dilakukan Pemerintah Kota Solo. (JK)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....