Solo Kembali Terpental dari 10 Besar Kota Toleransi, Pemkot Lakukan Evaluasi
- 23 Apr 2026 18:19 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Kota Solo selama dua tahun berturut-turut tidak masuk 10 besar kota toleransi versi SETARA Institute. Hal itu diketahui setelah belum lama ini, lembaga penelitian tersebut merilis Indeks Kota Toleran (IKT) 2025.
Ditemui di Balai Kota Solo pada Kamis, 23 April 2026, Wali Kota Respati Ardi mengatakan Kota Bengawan sudah selalu menjaga betul toleransi, namun dirinya tidak memahami pasti alasan Solo tidak masuk 10 besar kota toleransi.
Meskipun begitu, Respati Ardi mengaku tidak akan patah semangat dan menjadikan hasil IKT SETARA Institute sebagai bahan evaluasi ke depan.
"Untuk SETARA Institute saya terima kasih. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk meningkatkan toleransi dan kami menjamin setiap warga bisa beribadah sesuai dengan tuntunannya masing-masing. Kami sangat menjamin 100 persen itu.
Ke depan demi kembali membawa Kota Solo masuk dalam 10 besar kota toleransi, Respati mengaku akan melakukan evaluasi dan berbenah untuk mendapatkan penilaian yang lebih baik dari sebelumnya.
Pemimpin Pemkot Solo ini menduga adanya beberapa hal yang kurang atau berbeda dari sebelumnya, sehingga membuat penilaian terhadap Kota Bengawan berkurang.
Lebih lanjut, Respati Ardi menegaskan bahwa Pemerintah Kota tetap selalu menjamin kebebasan beribadah dengan baik serta menghadirkan event-event keagamaan, demi mewujudkan Kota Solo sebagai kota yang benar-benar mengedepankan toleransi.
"Intinya kami menjamin kebebasan beribadah dengan baik dan event-event keagamaan bahkan kemarin baru pertama kali ada open house Paskah dan dihadiri monsignor. Ini sangat luar biasa, dokumen saja sepertinya yang mungkin belum lengkap, tapi ini menjadi evaluasi bagi kamu," katanya menambahkan.
Sementara itu, Ketua Perwakilan Masyarakat Surakarta (PMS), Sumartono Hadinoto menilai masih ada masyarakat yang memang dianggap tidak ingin Kota bengawan sebagai kota Toleran. Terlihat dari masih adanya warga yang melakukan kegiatan melawan toleransi.
"Kelihatannya kan masih banyak orang-orang yang masih menginginkan Solo itu tidak toleransi menurut saya. Karena hal-hal yang sepele pun masih dilakukan, ya sesuatu yang berlawanan dengan toleransi," ucap Sumartono Hadinoto.
Demi menanggulangi hal itu, Sumartono berharap Pemerintah Kota bisa sigap melakukan pencegahan jika terjadi suatu konflik yang menyangkut toleransi di Kota Solo.
"Kami berharap Pemerintah Kota melakukan hal-hal pencegahan kalau ada sesuatu konflik entah apapun yang menyangkut toleransi, ini segera ditangani dengan bijak. Hanya perbedaan sudut pandang menurut saya yang terjadi ini, kedua memang ada yang ingin Solo tidak begitu toleransi dan yang lain lagi juga ya," ucapnya menambahkan.
Diketahui dalam data penilaian SETARA Institute, Kota Salatiga menduduki peringkat pertama dengan skor 6,492 dan di posisi kedua diisi Singkawang dilanjutkan Semarang, Pematang Siantar, Bekasi, Sukabumi, Magelang, Kediri, Tegal dan ditutup Ambon. (JK/MI)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....