Lazismu Sragen Tanggung Pengobatan Korban Atap Ambrol MTs Muhammadiyah 4
- 13 Mei 2026 22:56 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Sragen - Penanganan korban robohnya atap ruang kelas di MTs Muhammadiyah 4 Sambungmacan dilakukan oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Melalui Lazismu Sragen, Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sragen dan Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah akan membackup biaya perawatan korban.
Insiden yang terjadi pada Selasa 12 Mei 2026 itu mengakibatkan delapan orang menjadi korban, terdiri atas tujuh siswa dan satu guru. Para korban menjalani perawatan di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen dan RSI Amal Sehat Sragen.
Sekretaris PWM Jawa Tengah, Dodok Sartono, bersama pengurus Muhammadiyah dan Lazismu meninjau langsung lokasi kejadian sekaligus menjenguk korban yang masih dirawat di rumah sakit.
Manajer Lazismu Sragen, Rizki Arif Hernawan, mengatakan Muhammadiyah memastikan seluruh kebutuhan medis korban akan dipenuhi sampai proses perawatan selesai. "Selain fokus pada penanganan korban, Muhammadiyah juga menyiapkan renovasi bangunan sekolah yang terdampak," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima rri.co.id, Rabu 13 Mei 2026.
Tiga ruang kelas di MTs Muhammadiyah 4 Sambungmacan direncanakan segera diperbaiki setelah proses pemeriksaan dari pihak berwenang selesai dilakukan.
Muhammadiyah juga berencana melakukan evaluasi terhadap kondisi bangunan sekolah-sekolah di bawah naungannya. Hal ini guna memastikan keamanan fasilitas pendidikan dan mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Pihak Lazismu terus berkoordinasi dengan keluarga korban, pihak sekolah, hingga pengurus Muhammadiyah setempat terkait proses pendampingan dan pembiayaan pengobatan. Bantuan tambahan juga akan diajukan ke tingkat provinsi untuk mendukung kebutuhan perawatan korban yang masih dirawat.
Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Madrasah Kantor Kemenag Sragen, Witono memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) akan tetap berjalan. Mengingat waktu pelaksanaan tahun ajaran yang hampir berakhir, pihak sekolah diminta untuk melakukan relokasi sementara.
"Karena kelas 6 di MI (satu lokasi) sudah selesai, nanti siswa MTs bisa menggunakan ruang kelas tersebut untuk sementara waktu karena letaknya berdekatan," ujar Witono, Selasa 12 Mei.
Dia menegaskan bahwa pihaknya sebenarnya secara rutin melakukan pemantauan terhadap kondisi bangunan madrasah di Bumi Sukowati. Pendataan mengenai kategori kerusakan, baik ringan maupun berat, pun diklaim selalu diperbarui setiap awal tahun pelajaran.
"Kalau pemantauan sebetulnya kami rutin. Awal tahun pelajaran kami sudah meminta data gedung yang rusak, dan itu sudah ada dalam pendataan kami. Kami juga memiliki aplikasi SIMSARPRAS (Sistem Informasi Sarana dan Prasarana), di mana madrasah yang rusak silakan mengajukan bantuan lewat sana," ujar Witono. MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....