Tren Penyakit di Solo Bergeser, Kasus Hipertensi Kini Sasar Remaja

  • 15 Mei 2026 16:24 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Dinas Kesehatan Kota Surakarta mencatat adanya pergeseran tren penyakit menonjol di Kota Bengawan dalam beberapa waktu terakhir.

Jika sebelumnya daftar sepuluh besar penyakit didominasi oleh penyakit menular seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), kini posisi tiga besar justru diduduki oleh Penyakit Tidak Menular (PTM).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Retno Erawati, mengatakan, penyakit seperti hipertensi, diabetes melitus (DM), dan jantung kini menjadi ancaman utama kesehatan masyarakat yang perlu diwaspadai secara serius.

Data tersebut dihimpun dari laporan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh wilayah Surakarta. Pergeseran ini menunjukkan bahwa ancaman kesehatan masyarakat saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor gaya hidup dibandingkan penularan virus atau bakteri.

Dinas Kesehatan Surakarta terus mengupayakan penguatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) untuk menekan angka prevalensi penyakit kronis tersebut agar tidak semakin melonjak.

"Kalau dulu ranking satu dan dua itu masih diduduki oleh penyakit menular, sekarang ranking satu, dua, tiga ini sudah diduduki oleh penyakit tidak menular seperti hipertensi, DM, dan jantung," ujar Retno Erawati kepada rri.co.id, Jumat, 15 Mei 2026.


Munculnya tren ini dipengaruhi oleh beberapa faktor gaya hidup, terutama gaya hidup sedenter atau kurang aktivitas fisik yang dikenal dengan istilah "mager". Selain itu, pola makan yang tidak sehat seperti kegemaran mengonsumsi makanan instan dengan kadar natrium tinggi serta minuman berpemanis menjadi pemicu utama.

Kebiasaan merokok di tengah masyarakat yang masih tinggi juga memperburuk risiko terjadinya komplikasi penyakit pembuluh darah.Hal yang paling mengkhawatirkan adalah mulai bergesernya usia penderita ke kelompok usia yang lebih muda.

Dinas Kesehatan menemukan fakta di lapangan adanya remaja usia 15 hingga 16 tahun yang sudah memiliki tekanan darah sangat tinggi. Fenomena ini membuktikan Penyakit Tidak Menular tidak lagi hanya menyerang kelompok usia di atas 50 tahun, melainkan sudah masuk ke lingkungan sekolah menengah.

"Kemarin saat cek kesehatan di sekolah, ada anak usia 16 tahun yang tensinya sudah 170 karena kebiasaan begadang dan suka makanan instan, ini sudah mulai di anak remaja kita," kata Retno.

Menyikapi hal tersebut, Dinas Kesehatan Surakarta mulai menggandeng berbagai komunitas pemuda seperti Forum Anak, Gempita, dan Karang Taruna untuk menjadi penggerak edukasi sebaya.

Melibatkan generasi Z dianggap sebagai langkah strategis karena komunikasi antar-teman sebaya dinilai lebih efektif dalam mengubah kebiasaan buruk di kalangan remaja. Melalui pendekatan komunitas, diharapkan jangkauan edukasi pola hidup sehat dapat diterima lebih luas dan inklusif oleh anak muda di Solo. (Dania)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....