Pengamat UNS: Risiko Pandemi Hantavirus Rendah, Beda dengan Covid-19
- 14 Mei 2026 19:02 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Tonang Dwi Ardyanto, meminta masyarakat tidak panik berlebihan menyikapi munculnya kasus Hantavirus.
Berbeda dengan Covid-19 yang menyebar cepat dari manusia ke manusia, Hantavirus tidak memiliki kemampuan penularan antarmanusia. Hal ini membuat risiko terjadinya pandemi global akibat virus yang dibawa oleh hewan pengerat ini dinilai sangat rendah.
Meskipun laporan kasus mulai muncul, Hantavirus sebenarnya bukan merupakan virus baru di ekosistem kesehatan Indonesia. Sejak tahun 1990-an, keberadaan virus ini sudah terdeteksi, namun sering kali terlewat karena gejalanya menyerupai penyakit endemik lain.
Karakteristik penyebarannya yang bersifat lokal dan tertutup membuat ancaman skalanya tidak akan menyamai wabah virus korona yang pernah terjadi sebelumnya.
"Risiko menjadi pandemi itu rendah karena memang sifatnya beda dengan Covid yang virus baru dan punya kemampuan menyebar dari manusia ke manusia," ujar Prof. Tonang kepada rri.co.id, Kamis, 14 Mei 2026.
Penularan Hantavirus ke manusia terjadi melalui proses aerosolisasi, yakni terhirupnya partikel debu yang terkontaminasi urin, feses, atau air liur tikus.
Masyarakat sering salah kaprah dengan menganggap gigitan tikus sebagai faktor utama, padahal kebersihan udara di lingkungan lembap jauh lebih krusial.
Oleh karena itu, membersihkan gudang atau area kotor dengan masker dan kain basah menjadi langkah pencegahan yang paling efektif.
Data penelitian terbaru menunjukkan bahwa dari sekitar 250 suspek yang diperiksa sejak awal tahun 2024, hanya 23 orang yang dinyatakan positif Hantavirus.
Angka ini menggambarkan bahwa meskipun virusnya ada, tidak semua orang yang terpapar akan jatuh sakit secara berat. Namun, bagi individu yang terinfeksi dan menunjukkan gejala klinis, risiko fatalitas di Indonesia tetap harus diwaspadai karena mencapai angka 15 persen.
"Di Indonesia diperkirakan 10 sampai 11 persen orang pernah terinfeksi, hanya sebagian besar tidak sampai sakit sehingga tidak terdiagnosa," kata Prof. Tonang.
Hingga saat ini, belum ada obat khusus maupun vaksin global yang tersedia secara luas untuk menangani Hantavirus. Penanganan medis dilakukan secara suportif dengan mengobati dampak infeksi pada organ yang diserang, seperti ginjal atau paru-paru.
Prof. Tonang menekankan bahwa kunci utama menghadapi virus apa pun, termasuk Hantavirus, adalah konsistensi masyarakat dalam menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). (Dania)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....