Fakta Vaksin Hantavirus: Belum Ada yang Berlaku Secara Global
- 14 Mei 2026 19:11 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Masyarakat diminta untuk tidak terjebak dalam ekspektasi munculnya vaksin baru secara instan di tengah mencuatnya laporan kasus Hantavirus di Indonesia.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Tonang Dwi Ardyanto, menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada vaksin Hantavirus yang tersedia secara global.
Penelitian mengenai vaksin ini sebenarnya sudah dilakukan sejak lama di beberapa negara, namun efikasinya belum merata untuk seluruh dunia.
Minimnya akses vaksin ini dikarenakan Hantavirus memiliki berbagai macam strain atau varian yang berbeda di setiap wilayah geografis. Hal ini membuat pengembangan satu jenis vaksin tunggal menjadi tantangan besar bagi dunia kedokteran internasional.
Meskipun penelitian terus berjalan, pembuktian secara medis mengenai efektivitas vaksin tersebut belum cukup kuat untuk disebarluaskan ke banyak tempat di luar wilayah penelitian asalnya.
"Jangan kita terjebak mengatakan bahwa ini kalau ada virus baru ada vaksin baru. Tidak. Ini virus lama dan sampai sekarang belum ada vaksin yang sifatnya global di dunia belum," ujar Prof. Tonang Ardyanto, kepada rri.co.id, Kamis, 14 Mei 2026.
Saat ini, penggunaan vaksin Hantavirus baru bersifat sangat terbatas dan hanya diterapkan di negara-negara tertentu seperti Korea Selatan dan Cina.
Di Korea Selatan, para ahli telah meneliti strain khusus yakni Hantaan virus yang memang endemik di wilayah tersebut. Namun, hasil penelitian dan bukti efikasi dari kedua negara tersebut belum diadopsi oleh otoritas kesehatan dunia sebagai standar pencegahan global.
Di luar Korea Selatan dan Cina, beberapa negara lain masih terus melakukan riset mendalam namun belum menunjukkan hasil yang signifikan untuk diproduksi secara masif.
Kondisi ini menuntut masyarakat untuk lebih realistis dan tidak menggantungkan perlindungan kesehatan sepenuhnya pada ketersediaan vaksin dalam waktu dekat. Fokus utama saat ini tetap pada upaya preventif melalui kebersihan lingkungan untuk memutus rantai penularan.
"Vaksin baru digunakan di Cina dan Korea, tempat lain sudah meneliti tapi belum memberikan hasil. Jadi kuncinya adalah perilaku hidup bersih dan sehat," kata Prof. Tonang menambahkan.
Tanpa adanya vaksin yang tersedia secara global, deteksi dini dan pengobatan suportif menjadi garda terdepan dalam menangani pasien yang terinfeksi.
Tenaga medis akan fokus mengobati komplikasi yang muncul pada organ paru-paru, jantung, maupun ginjal sesuai dengan dampak infeksi pada tubuh pasien.
Kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan dari keberadaan tikus jauh lebih efektif dibandingkan menunggu kepastian vaksin yang masih dalam tahap pengembangan. (Dania)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....