Waspada Hantavirus di Indonesia: Gejala Mirip DBD dan Serang Ginjal
- 14 Mei 2026 19:08 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Masyarakat diimbau untuk lebih teliti mengenali gejala infeksi Hantavirus yang sering kali menyerupai penyakit demam berdarah (DBD) dan leptospirosis.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Tonang Dwi Ardyanto, menyebut kemiripan gejala ini sering membuat kasus Hantavirus tidak terdiagnosa dengan tepat. Akibatnya, pasien sering kali baru diketahui terinfeksi setelah mengalami komplikasi organ yang cukup serius.
Berbeda dengan strain yang berkembang di Amerika yang menyerang paru-paru dan jantung, Hantavirus di Asia dan Indonesia cenderung menyerang fungsi ginjal. Kondisi ini secara klinis dikenal sebagai gangguan ginjal akut yang diawali dengan demam tinggi.
Jika tidak segera ditangani, infeksi ini dapat memicu kegagalan fungsi organ yang berujung pada kematian, sebagaimana dilaporkan pada tiga kasus fatal baru-baru ini.
"Di Indonesia yang timbul awal mirip demam berdarah, tapi kemudian diikuti gangguan yang sampai ke ginjal atau gagal ginjal," ujar Prof. Tonang Ardyanto, kepada rri.co.id, Kamis, 14 Mei 2026.
| Baca juga: RRI Surakarta: Pencegahan Virus Nipah |
Pakar epidemiologi ini menjelaskan bahwa sekitar 11 hingga 12 persen dari pasien dengan gejala demam misterius terbukti positif terinfeksi Hantavirus melalui uji laboratorium.
Banyaknya kasus yang "terlewat" menunjukkan bahwa virus ini sudah lama bersirkulasi di tengah masyarakat tanpa disadari.
Oleh karena itu, penguatan diagnosa di tingkat rumah sakit menjadi penting jika ditemukan pasien dengan gejala demam yang tidak merespons pengobatan standar.
Meski tingkat kematian strain Indonesia jauh lebih rendah dibanding Amerika yang mencapai 60 persen, angka kematian 15 persen di dalam negeri tidak bisa disepelekan.
Penyakit ini menuntut kewaspadaan individu terhadap kebersihan tempat tinggal agar tidak menjadi sarang hewan pengerat. Pembersihan area yang dicurigai mengandung kotoran tikus harus dilakukan dengan hati-hati agar partikel virus tidak terhirup ke saluran pernapasan.
"Poin utama penyebaran bukan gigitan tikus, tapi dari urin dan feses tikus yang terbawa angin atau aerosolisasi lalu terhirup oleh kita," kata Prof. Tonang.
Sebagai langkah antisipasi, Prof. Tonang menyarankan masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami demam yang disertai nyeri otot dan gangguan kencing.
Tidak adanya vaksin global menjadikan pola hidup bersih sebagai satu-satunya perisai bagi masyarakat awam. Sinergi antara kebersihan lingkungan dan deteksi dini menjadi strategi utama dalam menekan angka fatalitas kasus Hantavirus di Indonesia. (Dania)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....