Dinas Kesehatan Solo Waspada Hantavirus meski Belum Ada Kasus Terkonfirmasi
- 13 Mei 2026 12:35 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Dinas Kesehatan Kota Surakarta memperketat kewaspadaan terhadap potensi penyebaran Hantavirus menyusul laporan temuan kasus di sejumlah provinsi di Indonesia.
Meski hingga saat ini belum ada kasus terkonfirmasi di Kota Bengawan, pemerintah daerah mulai menyiapkan seluruh fasilitas kesehatan (faskes).
Kesiapan ini mencakup sarana prasarana, ketersediaan obat-obatan, hingga panduan tata laksana penanganan bagi tenaga medis di tingkat puskesmas maupun rumah sakit rujukan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Retno Erawati, menegaskan edukasi masif kepada masyarakat menjadi langkah awal untuk mencegah kepanikan.
Masyarakat perlu memahami Hantavirus bukanlah virus baru, namun kembali mencuat karena sempat viral di luar negeri.
| Baca juga: RRI Surakarta: Pencegahan Virus Nipah |
Dinas Kesehatan juga mengoptimalkan seluruh kanal media sosial milik faskes untuk menyebarluaskan informasi mengenai gejala, penularan, serta cara pencegahan virus yang dibawa oleh hewan pengerat tersebut.
"Harapannya dengan edukasi dan sosialisasi ini masyarakat paham terkait hantavirus sehingga tidak menjadi panik, karena sebenarnya ini bisa kita cegah bersama-sama," ujar Retno Erawati saat ditemui rri.co.id di ruang kerjanya, Rabu, 13 Mei 2026.
Dijelaskan, Hantavirus ditularkan ke manusia melalui hewan pengerat, terutama tikus, melalui debu yang telah tercampur dengan kotoran atau air kencing tikus yang terinfeksi.
Penularan terjadi saat partikel tersebut mengering, bercampur dengan debu, lalu terhirup oleh manusia (inhalasi). Retno menekankan virus ini tidak menular antarmanusia, sehingga fokus utama perlindungan adalah menjaga kebersihan lingkungan dari keberadaan tikus.
Gejala awal virus ini meliputi demam tinggi, menggigil, pusing, nyeri otot, hingga tubuh terasa lemas. Penyakit ini dapat bermanifestasi pada dua organ vital, yakni paru-paru yang menyebabkan sesak napas akut, serta ginjal yang dapat memicu mual-muntah hingga gagal ginjal.
Komplikasi pada paru-paru yang terisi cairan atau kerusakan fungsi ginjal inilah yang sering kali menjadi penyebab fatalitas pada pasien.
"Penerapan wet cleaning atau menyapu dengan kain pel basah sangat penting agar debu tidak terbang dan terhirup, serta selalu gunakan cairan antiseptik saat membersihkan area yang diduga ada kotoran tikus," kata Retno.
Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat untuk kembali memperketat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai jurus ampuh menangkal berbagai penyakit menular.
Masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke faskes terdekat jika merasakan gejala demam tinggi dan nyeri otot yang tidak kunjung reda. Deteksi dini sangat krusial agar penanganan medis dapat segera dilakukan sebelum terjadi komplikasi yang lebih buruk bagi kesehatan. (Dania)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....