Krisis Kesehatan Mengancam, Kasus Anak tanpa Vaksin di Jawa Tengah Melonjak Tajam

  • 05 Mei 2026 19:47 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Situasi kesehatan anak di Jawa Tengah saat ini dilaporkan sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja menyusul lonjakan signifikan angka anak yang belum pernah mendapatkan imunisasi atau berstatus zero dose. Terungkap, ribuan anak kini berada dalam ancaman serius Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).

Pengelola program imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Budiono, mengungkapkan kasus PD3I mulai bermunculan di berbagai wilayah, mulai dari Cilacap, Klaten, Pati, Brebes, hingga Boyolali.

Kondisi ini diperparah dengan capaian imunisasi tahun 2026 yang masih jauh dari target yang ditetapkan. Budiono menekankan bahwa kuman dan virus tidak mengenal batas wilayah, sehingga kolaborasi seluruh pihak diperlukan untuk meningkatkan cakupan imunisasi.

"Situasi saat ini memang bisa dikatakan dalam kondisi belum baik-baik saja. Muncul PD3I dan ini buktinya, di mana-mana ada langkah PD3I mulai dari Cilacap, Klaten, Pati, Brebes, terakhir kemarin di Boyolali," ujar Budiono dalam acara Advokasi Percepatan Imunisasi Rutin yang digelar di Kantor Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Selasa, 5 Mei 2026.

Sementara itu, PIC Imunisasi Pusat Penelitian Kesehatan (Puslitkes) LPPM Universitas Diponegoro (UNDIP), Ayun Sriatmi, menunjukkan tren kenaikan kasus zero dose di Jawa Tengah yang sangat mengkhawatirkan.

Pada tahun 2023, tercatat sebanyak 11.426 anak berstatus zero dose, angka ini melonjak menjadi 40.863 anak pada 2024, dan meledak hingga 163.942 anak pada tahun 2025.

Akibatnya, cakupan imunisasi dasar lengkap di Jawa Tengah cenderung turun dan tidak mencapai target minimal 95 persen. Lonjakan kasus ini berdampak langsung pada munculnya wabah penyakit, seperti campak, yang saat ini mulai meningkat di hampir seluruh daerah di Jawa Tengah.

Rendahnya cakupan imunisasi disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari ketakutan orang tua akan efek samping vaksin seperti demam, hingga kurangnya edukasi mengenai pentingnya kekebalan kelompok.

Padahal, biaya penanggulangan saat terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) jauh lebih mahal dibandingkan biaya investasi vaksinasi yang relatif murah.

"Potensi wabah akan semakin besar dan itu sudah terjadi saat ini, hampir semua daerah di Jawa Tengah mengalami wabah campak karena anak-anak tidak divaksin," kata Ayun.

Pemerintah terus berupaya mengejar ketertinggalan ini dengan menambah tiga jenis vaksin wajib baru, yaitu PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine), Rotavirus, dan HPV (Human Papillomavirus) guna menekan angka kematian bayi akibat diare dan pneumonia.

Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kesadaran orang tua untuk memenuhi hak kesehatan anak. Masyarakat diimbau untuk tidak ragu membawa anak ke fasilitas kesehatan demi mencegah kecacatan permanen atau kematian akibat penyakit menular. (Dania/MI)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....