Kala Sawah Petani Klaten Tercemar Limbah Mi Soun, Petani Rindu Air Jernih
- 13 Jun 2026 19:55 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, KLATEN — Bagi Tugiono, aroma menyengat yang kerap menusuk hidung saat ia melintasi jalanan desa bukan lagi hal baru. Lelaki berusia 61 tahun ini hanya bisa tersenyum getir setiap kali mendengar pengendara asing menutup hidung sembari bertanya, "Lho, ini bau apa?"
Bagi warga luar, bau tersebut adalah polusi yang mengganggu. Namun bagi Tugiono dan para petani di Dusun Margoayu, Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, bau itu adalah penanda dari masalah yang jauh lebih besar, yaitu ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup sawah mereka.
Sudah bertahun-tahun, air sungai yang menjadi urat nadi pengairan sawah di wilayah tersebut tercemar oleh limbah pati onggok (ampas sisa produksi industri rumahan mi soun) berbahan baku pati aren yang menjamur di kawasan sekitar. Akibatnya, kesuburan tanah perlahan terkikis, dan hasil panen pun tak lagi bisa diandalkan.
"Iya, iya, kurang... kurang maksimal. Hasil pertanian kurang maksimal. Berbeda dengan kalau pakai air yang khusus bening begitu," keluh Tugiono saat ditemui Tim Liputan RRI, di sela-sela aktivitasnya baru baru ini.
Kondisi ini kian memburuk saat musim hujan tiba. Industri rumahan yang membuang ampas sagu secara sembarangan kerap membuat saluran air tersumbat.
Efek domino pun terjadi. Air sungai yang bercampur dengan resapan limbah pekat itu meluap, menggenangi jalanan, hingga masuk ke petak-petak sawah milik warga.
Melihat sawahnya kian merana, Tugiono mengaku para petani tidak tinggal diam. Melalui kelompok tani, mereka sudah berkali-kali mendatangi Balai Desa Daleman untuk mengadukan nasib dan menyuarakan urat nadi penghidupan mereka yang terganggu.
Namun, jawaban yang diterima para petani kerap kali menggantung. Di beberapa titik, seperti di kawasan timur desa dan dekat sekolah dasar (SD), pemerintah setempat memang telah membuatkan sumur bor yang dilengkapi pompa sibel untuk pengairan bersih. Sayangnya, nasib baik itu belum berpihak pada wilayah Tugiono.
"Kalau di sini sepertinya belum, belum ada. Di sini ya cuma itu, cuma mengandalkan air dari sungai (lepen) itu," ucap dia.
Hingga kini, komunikasi antara petani, pihak desa, dan para pengusaha mi soon bagaikan benang kusut yang sulit diurai. Menurut Tugiono, laporan demi laporan yang dilayangkan warga seperti membentur dinding tebal.
"Alah sudah... walah sudah berkali-kali laporan juga. Tapi nyatanya ya tidak bisa memutuskan lurahnya," kata Tugiono dengan nada pasrah.

Yoto Hartono (73) yang berdiri memandangi hamparan sawahnya juga merasakan kecemasan. Guratan mendalam di wajahnya bukan sekadar penanda usia, melainkan rekam jejak puluhan tahun pengabdiannya pada tanah.
Menjadi petani sejak kecil hingga rambut memutih, Yoto tahu betul bagaimana memperlakukan padi agar tumbuh subur. Namun belakangan ini, ada kecemasan yang terus mengalir bersama air sungai di desanya.
Sumber kecemasan itu berasal dari limbah industri pati onggok aren yang beroperasi di wilayah tersebut. Bagi para petani setempat, kehadiran ampas sisa pengolahan aren ini telah lama menjadi musuh dalam selimut yang mengganggu tumbuh kembang tanaman padi mereka.
"Jelas terganggu. Limbah itu kalau masuk ke sawah membuat tanaman tidak bisa tumbuh dengan baik," ujar Yoto dengan keresahannya.
Menurut Yoto, masalah utama dari limbah onggok ini terletak pada kandungan bahan kimia yang oleh warga lokal biasa disebut kaporit serta sisa ampas padatnya. Situasi akan memburuk manakala musim hujan tiba dan debit air meningkat.
"Kalau banjir, ampasnya itu meluap dan terbawa ke mana-mana, menutup permukaan sawah," tambahnya sembari menunjuk ke arah aliran sungai dan parit (kalen) yang menjadi urat nadi pengairan sawah warga. Meski di beberapa titik dekat sekolah sudah diberi saringan di pesisir sungai, volume limbah yang besar kerap kali tak membendung riak ampas yang hanyut.
Sebenarnya, upaya untuk menjinakkan limbah ini bukannya tidak pernah ada. Yoto mengenang, beberapa tahun lalu sempat ada proyek bantuan teknologi dari Jerman yang mencoba mengolah limbah onggok tersebut menjadi gas siap pakai. Sayangnya, inovasi yang sempat membawa secercah harapan itu berujung gagal dan tidak bisa beroperasi berkelanjutan.
Di sisi lain, para pengusaha industri rumahan mi soon dinilai belum memiliki itikad kuat untuk memikirkan dampak lingkungan dari bisnis mereka. Belum ada sistem pengolahan limbah yang representatif agar pembuangan ampas tidak langsung bercampur ke saluran irigasi warga.
Bagi Tugiono dan Yoto serta petani lainnya di Desa Daleman, mereka tidak muluk-muluk. Mereka tidak meminta industri rumahan tersebut ditutup, karena mereka tahu itu juga menjadi ladang nafkah bagi sebagian warga lainnya.
Mereka hanya merindukan satu hal sederhana yang kini menjadi barang mewah: pancaran air bening yang mengalir lancar ke sawah mereka, tanpa pekatnya limbah, tanpa bau yang menyengat. Tim Liputan RRI
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....