Simalakama, Dilema Cuan dan Limbah Industri Pati Aren Kecamatan Tulung
- 13 Jun 2026 19:48 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Sragen - Aroma khas pati aren langsung menyergap siapapun yang melintasi kawasan sentra industri tepung dan mi soun di Kecamatan Tulung, Klaten. Bagi para pengusaha dan buruh, bau ini adalah bau kesejahteraan tanda bahwa dapur mereka tetap mengepul.
Namun di balik putih dan kenyalnya mi soun yang tersaji di meja makan, ada persoalan keruh yang terus mengalir di sungai-sungai desa, yaitu limbah padat dan cair yang belum menemukan solusi akhir.
Hingga saat ini, sisa pengolahan yang mencapai 50 persen dari total bahan baku masih menjadi momok yang membayangi para pelaku usaha dan lingkungan sekitar. Sebuah rantai ekonomi unik sekaligus rumit tercipta di sini, melibatkan pengusaha besar dan warga kampung yang menggantungkan hidup dari sisa-sisa produksi.
Triawan, salah satu pengusaha mi soun berbahan pati aren di Kecamatan Tulung, menuturkan bahwa bagi pelaku usaha skala besar seperti dirinya, limbah padat sebenarnya bukan masalah langsung. Ada ekosistem "penyelamat" yang digerakkan oleh warga kampung.
"Limbahnya diambil sama orang-orang kampung. Dibersihkan lagi, karena masih ada kisaran 30% tepungnya di situ. Mereka peras lagi, dijadikan tepung, lalu kami beli lagi dari mereka," kata Triawan dijumpai Tim Liputan RRI belum lama ini.
Mekanisme ini sekilas terlihat seperti win-win solution. Warga mendapat penghasilan tambahan, dan pengusaha mendapatkan pasokan bahan baku ekstra. Namun, masalah baru muncul justru ketika warga kampung selesai mengekstrak sisa tepung tersebut.
Warga yang mengolah kembali limbah ini rata-rata tidak memiliki lahan atau fasilitas pembuangan akhir untuk ampas yang benar-benar sudah habis sarinya. Alhasil, jalan pintas pun diambil.
"Akhirnya terus mlayu (lari) ke pinggir-pinggir jalan, pinggir-pinggir kali," aku Triawan.
Jika limbah baru diturunkan, baunya mungkin belum menyengat. Namun, petaka lingkungan terjadi saat ampas-ampas pati aren tersebut menumpuk di aliran air dan terhenti.
"Kalau baru enggak bau. Tapi ada air yang istilahnya enggak langsung hanyut habis di sungai. Akhirnya mengendap di sana sebulan, dua bulan, bahkan ada yang tahunan. Nah, itu yang bikin bau," kata Triawan.
| Baca juga: Mengolah Limbah Dapur Jadi Kompos |
Limbah yang mengendap ini tidak hanya mencemari air sungai secara visual dan aroma, tetapi juga mengancam lahan pertanian warga di hilir. Air sungai yang tercemar zat organik tinggi dari pati aren dapat menurunkan kualitas kesuburan tanah dan merusak tanaman padi jika digunakan untuk irigasi.
Hal ini sempat memicu protes keras dari masyarakat bawah yang terkena dampak langsung dari limbah aliran (kelen) tersebut. Mediasi dan komunikasi berulang kali dilakukan, namun benturan kepentingan tak terhindarkan.
"Yang namanya masyarakat banyak, satu kadang diingatkan bisa, yang satu tidak. Soalnya mikirnya gini, 'Kalau di tempatku ini ampasnya hanyut, aku bisa kerja lagi mencari uang'. Kalau limbah ini tidak hilang, proses produksi tepung warga berhenti," ujar Triawan.
Bagi warga setempat, menghentikan aktivitas ini bukanlah pilihan mudah. Ini adalah urusan bertahan hidup. "Simalakama. Urusannya sama perut," cetusnya sambil tertawa getir.
Meski berjalan tertatih, upaya pencarian solusi mulai menunjukkan titik terang, khususnya untuk penanganan limbah padat. Pemerintah Desa Pucang Miliran saat ini telah berinisiatif menyediakan lahan khusus untuk pembuangan limbah padat agar tidak lagi dibuang sembarangan ke tepi jalan atau sungai.
"Alhamdulillah untuk saat ini semua sudah kondusif, soalnya dari pemerintahan Desa Pucang Miliran sendiri sudah menyediakan lahan untuk pembuangan limbah padatnya," ujar Triawan melegakan.
Namun, pekerjaan rumah terbesar justru ada pada pengelolaan limbah cair. Riwayat penanganannya di Kecamatan Tulung masih dipenuhi cerita kegagalan. Triawan mengenang, dulu di Desa Daleman sempat ada fasilitas pengolahan untuk limbah cair. Sayangnya, proyek tersebut kini tinggal sejarah.
"Sekarang kayaknya enggak jalan, mangkrak. Sudah diratakan tanah," kata dia.
Selama instalasi pengolahan limbah cair kolektif yang efektif belum kembali dibangun dan pengelolaan limbah padat belum merata di seluruh desa di Kecamatan Tulung, maka aliran sungai di kawasan ini akan terus menanggung beban. Industri mi soon Tulung dituntut untuk tidak hanya mengenyangkan perut masyarakat, tetapi juga menyembuhkan lingkungan yang kian hari kian tercekik sisa produksi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....