Menjaga Kesakralan Bedhaya Anglir Mendung yang Melintasi Zaman

  • 08 Jun 2026 15:20 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Suasana Pendopo Ageng Puro Mangkunegaran, Surakarta, mendadak hening. Di tengah keriuhan peringatan naik tahta atau Tingalan Jumenengan ke-5 KGPAA Mangkunegara X, ratusan pasang mata mulai dari tokoh adat, lintas generasi muda, hingga deretan artis ibu kota tertuju pada satu titik.

Tujuh penari perempuan melangkah anggun, bergerak selaras dalam ritme yang magis. Mereka membawakan Bedhaya Anglir Mendung, sebuah tarian pusaka yang tak sekadar menjadi tontonan, melainkan sebuah manifestasi sejarah yang melintasi waktu ratusan tahun.

Bagi penonton awam, termasuk para pesohor yang terpukau malam itu, durasi tarian yang mencapai 45 hingga 50 menit mungkin terdengar lama. Namun, bagi Rina Wulandari, seorang pencinta seni tari asal Jaten, Karanganyar, setiap detik dalam tarian ini adalah keindahan murni.

"Dari awal masuk di sekolah seni, saya sudah sangat menyukai tari klasik. Bedhaya Anglir Mendung ini mahakarya yang luar biasa. Ada nilai estetika yang terpancar dari keselarasan antara gerak tubuh, iringan musik, busana, dan makna filosofi di dalamnya. Sama sekali tidak membosankan," ungkap Rina penuh kagum baru-baru ini.

Sri Paduka KGPAA Mangkunegara X saat prosesi peringatan kenaikan tahta ke 5 pada 27 Januari lalu. (Foto: RRI/Prokompim Setda Solo)

Untuk memahami magisnya Bedhaya Anglir Mendung, kita harus kembali ke abad ke-18. Tarian ini lahir dari rahim perjuangan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa, sebelum beliau dikukuhkan sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I.

Rusini, S.Kar., M.Hum., penari senior sekaligus pelatih tari Mangkunegaran, menceritakan bahwa tarian ini sejatinya adalah tarian prajurit. Kisahnya berakar dari perjalanan legendaris Raden Mas Said bersama pasukannya menuju wilayah Jawa Timur, di dekat Ponorogo.

"Dikatakan sebagai Anglir Mendung karena saat para prajurit berjalan ke daerah Jawa Timur kala itu, jalanan belum ada aspal, masih tanah berdebu. Ketika pasukan bergerak, tanah membuat debu yang membumbung tinggi ke angkasa seperti mendung. Anglir Mendung berarti seperti mendung. Dari sanalah nama itu lahir, menggambarkan semangat membara para prajurit untuk berperang," urai Rusini, maestro tari kelahiran Surakarta, 2 Juni 1949 tersebut.

Sebagai pembeda dari tradisi Keraton Kasunanan Surakarta yang menggunakan sembilan penari untuk tari Bedhaya, Mangkunegaran menetapkan jumlah tujuh penari. Angka tujuh ini menjadi ciri khas yang membedakan otoritas dan estetika Puro Mangkunegaran.

Eksistensi Bedhaya Anglir Mendung tidak berjalan mulus tanpa hambatan. Garis waktu sejarah mencatat tarian ini sempat "hilang" dari bumi Mangkunegaran setelah pemerintahan Mangkunegara IV. Saat itu, demi rekonsiliasi dan persatuan antara Mangkunegaran dan Kasunanan, tarian ini dipersembahkan kepada Paku Buwono (PB) IV di Keraton Surakarta.

Di tangan PB IV, tarian ini sempat berganti nama menjadi Bedoyo Alit karena jumlah penarinya yang tujuh orang. Silsilah berlanjut hingga masa pemerintahan PB VIII, di mana tarian ini diubah formatnya menjadi Tari Serimpi dengan empat orang penari.

Sejak saat itu, di lingkungan Keraton Surakarta, Anglir Mendung dikenal dalam bentuk Serimpi, meski secara garap gerak esensialnya tetap sama.

Rusini, S.Kar., M.Hum., penari senior sekaligus pelatih tari Mangkunegaran (kiri) mendampingi para penari Bedhaa Anglir Mendung saat tampil di hadapan KGPAA Mangkunegara X. (Foto: RRI/Dok Mangkunegaran Surakarta)

Lama tenggelam dalam sejarah Puro, angin segar berembus pada tahun 1986. Menyambut pengangkatan Mangkunegara I sebagai Pahlawan Nasional, seorang pakar tari bernama S. Ngaliman melakukan rekonstruksi besar-besaran di era Mangkunegara IX.

"Pak Ngaliman menggali lagi bentuk tarinya berdasarkan apa yang tersisa di Serimpi Keraton dan catatan buku Wedha Pradonggo. Bentuknya dikembalikan ke Mangkunegaran dengan jumlah tujuh penari. Meski komposisi ruangnya disesuaikan, garap tarinya tetap setia pada pakem awal," jelas Rusini, yang juga Abdi Dalem Kemantren Langenpraja Puro Mangkunegaran tersebut.

Rusini sendiri mulai terlibat langsung menarikan karya rekonstruksi ini sejak tahun 1988.

Sebagai tarian pusaka yang sakral, Bedhaya Anglir Mendung mengikat para penarinya dengan aturan adat yang ketat. Syarat mutlak bagi para penarinya adalah harus seorang gadis (belum menikah) dan tidak sedang dalam masa menstruasi. Aturan ini bukan tanpa alasan filosofis; bedhaya dianggap sebagai tarian suci, dan secara historis, para penari bedhaya zaman dahulu memiliki peluang untuk diangkat menjadi selir atau permaisuri raja.

Disiplin ketat ini dirasakan langsung oleh Cahyaningtyas, atau yang akrab disapa Tyas. Mantan penari Bedhaya Anglir Mendung ini mengenang awal mula dirinya terpilih pada tahun 1995 setelah diminta oleh almarhum Gusti Heru dan pelatih tari legendaris, Ibu Umi Hartono, untuk ikut latihan di jero (dalam istana).

"Saya menari dari tahun 1995 sampai 2001. Tahun 2002 saya harus berhenti karena menikah," kenang Tyas.

Dedikasinya membawa kehormatan tersendiri, di mana ia dianugerahi gelar kekancingan dari KGPAA Mangkunegara IX dengan gelar Nyi Demang.

Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka beserta istri dan sejumlah pejabat menghadiri peringatan kenaikan tahta KGPAA Mangkunegara X. (Foto: RRI/Prokompim Setda Solo)

Selain kesucian syarat penari, aura mistis dan sakral sering kali menyelimuti pementasan tarian ini. Tyas membagikan satu pengalaman spiritual yang tidak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya saat tampil di Tingalan Jumenengan.

"Ketika tarian dimulai, langit di atas Mangkunegaran sangat cerah. Namun, begitu tarian berlangsung, entah bagaimana langit tiba-tiba berubah menjadi mendung gelap. Dan tepat ketika tarian selesai, hujan langsung turun dengan derasnya. Di situ saya merinding, tarian ini benar-benar Anglir Mendung, seperti langit mendung," tutur Tyas dengan takjub.

Hingga saat ini, Puro Mangkunegaran terus berkomitmen menjaga nyala api tradisi ini agar tidak padam. Proses regenerasi penari terus berjalan secara terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemampuan dasar menari dan memenuhi syarat adat.

Sikap konsisten ini menjadi kunci mengapa Bedhaya Anglir Mendung tetap memikat, bahkan bagi generasi Z dan milenial yang memadati pendopo pada awal tahun 2026 ini. Warisan luhur Raden Mas Said tidak luntur digerus modernitas; ia justru tetap berdiri kokoh, anggun, dan senantiasa sakral setiap kali gending bertalu dan tujuh penari mulai melangkah. (Tim RRI)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....