Festival Tari Keraton Dorong Regenerasi Penari Muda

  • 30 Apr 2026 11:04 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Peringatan Hari Tari Dunia 2026 di Keraton Surakarta Hadiningrat dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat regenerasi penari muda melalui gelaran Keraton Art Festival di Bangsal Smarakata, Rabu 29 April 2026 malam.

Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta, GKR Koes Murtiyah Wandansari menegaskan, festival ini tidak sekadar pertunjukan, tetapi juga ruang pewarisan nilai budaya kepada generasi penerus.

“Yang Mulia Duta Besar Chili beserta Ibu, Sinuhun Pakubuwono XIV, juga para tamu undangan seluruhnya dan pastinya seluruh warga masyarakat yang malam ini bisa bersama-sama di Bangsal Semarakata, Keraton Surakarta Hadiningrat untuk mengadakan peringatan Hari Tari di Dunia yang kita kemas dengan Keraton Surakarta Art Festival yang ini ketiga kali diadakan di Bangsal Semarakata,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penyelenggaraan di dalam keraton menjadi pilihan agar masyarakat dapat merasakan langsung atmosfer budaya sumbernya. “Oleh sebab itu kami sudah tiga tahun ini mengadakan di Bangsa Semarakata yang kami harap warga masyarakat juga bisa merasakan, menikmati tarian juga kebudayaan yang ada di Keraton Surakarta Hadiningrat,” katanya.

Dalam festival ini, tari Bedoyo Sukomulyo yang digarapnya turut ditampilkan sebagai bentuk pelestarian pakem tari keraton. Ia menekankan pentingnya menjaga keutuhan sajian tari agar tidak terpotong durasinya.

“Kalau kita mengadakan atau mempersembahkan tarian keraton, kalau dipotengpoteng begitu kami tidak tega,” ucapnya.

Menariknya, sejumlah penari yang tampil berasal dari trah keraton, termasuk generasi muda yang tetap aktif berlatih di tengah kesibukan pendidikan formal.

“Alhamdulillah nanti pembawa Bedoyo Sukomulyo ada lima yang masih trah,” ujarnya.

Sementara itu, maestro tari Sardono W. Kusumo dalam orasi ilmiahnya menyoroti tantangan pelestarian budaya di tengah arus modernisasi dan industrialisasi.

“Ini yang saya mau ceritakan bagaimana secara sistemik Keraton itu mengawal bagaimana budaya Jawa itu tidak lenyap sama sekali ketika kita menjadi negara yang modern dan multikultural,” katanya.

Ia menilai, keraton perlu bertransformasi menjadi pusat konservasi sekaligus pendidikan seni budaya agar tetap relevan.

“Saya yakin dengan tadi kalau Keraton Solo ini bisa mengambil peran salah satu aspeknya selain ritual Keratonnya sendiri... mungkin memerlukan transformasi bagaimana salah satu soko gurunya itu adalah bagaimana Keraton itu berfungsi sebagai konservatorium seni budaya Jawa,” ujarnya. (Ase/MI)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....