Kisah Nabighah, Remaja 15 Tahun dari Sragen, yang Gantikan Almarhum Ayah Berhaji

  • 10 Mei 2026 21:08 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Sragen - Di tengah riuhnya keberangkatan 1.143 calon jemaah haji asal Kabupaten Sragen tahun 2026, terselip satu sosok mungil yang mencuri perhatian. Dia adalah Nabighah Nailatul Husna, remaja berusia 15 tahun asal Desa Peleman, Kecamatan Gemolong.

Di saat teman-teman seusianya mungkin tengah sibuk dengan urusan sekolah atau hobi remaja, Nabighah justru bersiap mengenakan kain ihram. Siswi kelas 9 MTsN 1 Surakarta ini tercatat sebagai jemaah haji termuda dari Bumi Sukowati tahun ini.

Namun, di balik senyum malunya, tersimpan sebuah misi mulia. Dia menunaikan ibadah haji untuk meneruskan impian almarhum sang ayah.

Keberangkatan Nabighah ke Tanah Suci bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah sebuah perjalanan pengganti (badal). Pada tahun 2023, awan duka menggelayuti keluarganya saat sang ayah berpulang ke Rahmatullah sebelum sempat menginjakkan kaki di Makkah.

Kursi kosong yang ditinggalkan sang ayah itulah yang kini diisi oleh Nabighah. Ia berangkat mendampingi ibundanya, Chusnul Chotimah, melalui Kelompok Terbang (Kloter) 65 Embarkasi Donohudan pada 12 Mei 2026.

"Senang sekaligus bersyukur bisa berangkat haji bersama ibu. Ini menjadi pengalaman yang sangat berarti," ucap Nabighah dengan nada bicara yang dewasa melampaui usianya.

Menjadi jemaah termuda di antara ribuan lansia tentu bukan perkara mudah. Nabighah sadar betul akan tanggung jawab itu. Sejak jauh hari, ia telah mematangkan persiapan, mulai dari Manasik Haji.

Dia mempelajari detail rukun dan wajib haji agar ibadahnya mabrur. Menjaga kebugaran tubuh untuk menghadapi cuaca ekstrem dan ritual tawaf serta sai. Menyiapkan hati untuk menempuh perjalanan spiritual yang penuh haru tanpa kehadiran fisik sang ayah.

Bagi keluarga, keberangkatan Nabighah adalah bentuk ikhtiar untuk melunasi janji dan niat suci yang dulu pernah dirancang bersama almarhum.

Kehadiran Nabighah di barisan jemaah Sragen menjadi oase tersendiri. Ia membuktikan bahwa panggilan Allah ke Baitullah tidak mengenal batas usia. Dukungan dan doa pun mengalir deras dari tetangga dan kerabat di Gemolong agar remaja ini senantiasa sehat dan kuat selama menjalankan ibadah.

Perjalanan Nabighah adalah potret nyata tentang bakti seorang anak. Di setiap langkahnya nanti di antara Shafa dan Marwah, atau saat ia bersimpuh di depan Kakbah, ada doa-doa yang ia langitkan untuk sang ayah yang kini tersenyum dari surga.

Tahun 2026 akan menjadi catatan sejarah bagi hidupnya. Bukan hanya sebagai jemaah haji termuda, tetapi sebagai pejuang keluarga yang berhasil mengantarkan cita-cita sang ayah sampai ke pintu rumah Allah. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....