Menua dengan Anggun, Kisah Sri Lestari dan Semangat "Sekar Melati Banyumili"

  • 08 Mei 2026 17:42 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SURAKARTA – Di sebuah sudut Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah (TBS) Surakarta, alunan gamelan lamat-lamat terdengar mengiringi gerak jemari sekelompok perempuan. Di antara mereka, sosok Sri Lestari Purnowirastri (59) tampak begitu khidmat mengikuti ritme. Baginya, menari di usia senja bukan lagi soal panggung megah, melainkan tentang merayakan hidup dan menjaga raga.

Perempuan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini menemukan kembali gairah hidupnya justru setelah memasuki masa purnatugas. Setahun lalu, usai menanggalkan jabatannya di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo yang bertugas di Wayang Orang Sriwedari, Sri sempat dirundung kegelisahan tentang bagaimana mengisi waktu luang agar tetap produktif.

"Awalnya, latihan dilakukan hanya untuk olahraga ringan. Saat itu kondisi kaki kanan saya masih terasa sakit dan sulit ditekuk," kenang perempuan yang akrab disapa Iyeng ini kepada rri.co.id, Jumat 8 Mei 2026.

Namun, keajaiban gerak itu nyata. Perlahan namun pasti, kelenturan tubuhnya kembali. Rasa sakit yang semula menghambat langkahnya sirna seiring dengan rutinnya ia mengolah tubuh lewat tari.

Iyeng saat latihan menari bersama kelompok tarinya di TBS surakarta (Foto: RRI/Istimewa)

Wadah Silaturahmi "Sekar Melati Banyumili"

Kegelisahan Iyeng ternyata disambut hangat oleh rekan-rekannya. Bersama lima sahabat sejawat—yang sebagian besar juga merupakan alumni ISI Surakarta—ia membentuk kelompok tari bernama "Sekar Melati Banyumili".

Anggota kelompok ini cukup beragam. Ada mantan kepala sekolah hingga mereka yang masih aktif bekerja namun sudah lama "gantung selendang". Setiap Jumat siang, mereka berkumpul bukan hanya untuk mengasah teknik, melainkan untuk melepas penat dan saling bertukar cerita.

"Banyak anggota yang awalnya mengeluhkan kaki dan tangan kaku karena lama tidak menari. Namun, setelah beberapa kali latihan, tubuh mulai terasa lebih ringan dan sehat," tambah Iyeng sembari tersenyum.

Iyeng bersama anggota Sekar Melati Banyumili rutin berlatih di salah satu kawasan TBS Surakarta. (Foto: RRI/Iyeng)

Dari Latihan Rutin ke Panggung Prambanan

Meski usia kelompok ini baru menginjak satu tahun dan fokus utamanya adalah kesehatan, kualitas mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Belum lama ini, Sekar Melati Banyumili dipercaya tampil dalam peringatan Hari Tari Dunia di pelataran Candi Prambanan, Klaten.

Membawakan tari Bedoyo Elo-Elo bersama sembilan penari usia senja lainnya, Iyeng dan kawan-kawan membuktikan bahwa pesona dan dedikasi pada seni tidak luntur dimakan usia. Penampilan tersebut menjadi suntikan semangat baru bagi mereka untuk terus berproses.

Bagi Iyeng, panggung adalah bonus. Harapan terbesarnya tetaplah konsistensi. Ia ingin menularkan semangat bahwa tubuh yang terus bergerak adalah kunci kesehatan yang paling ampuh.

"Menjaga semangat latihan itu yang utama. Tubuh yang terus bergerak akan membantu menjaga kesehatan tanpa harus selalu bergantung pada obat-obatan," pungkasnya. (SF)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....