Ketergantungan Bahan Baku Impor Jadi Tekanan Berat Industri Tekstil Nasional

  • 21 Mei 2026 20:00 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Industri tekstil nasional dinilai masih menghadapi tekanan berat akibat tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor. Kondisi tersebut diperparah oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berdampak langsung pada lonjakan biaya produksi industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) dalam negeri.

Hal itu disampaikan oleh akademisi industri tekstil lulusan universitas di Jerman, Felixtian Teknowijoyo, dalam kuliah umum bertajuk "Kebangkitan Tekstil Indonesia" di Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil (AK Tekstil) Solo, Rabu 20 Mei 2026.

Dalam forum tersebut, Felix mengaku optimistis industri tekstil Indonesia masih memiliki peluang besar untuk bangkit. Syaratnya, industri nasional harus mampu keluar dari ketergantungan impor dan memperkuat inovasi berbasis potensi lokal.

“Saya cukup optimistis tekstil Indonesia bisa mempunyai langkah nyata untuk maju ke depan. Terutama masalah impor ini harus segera bisa diatasi,” ujarnya.

Menurut Felix, selama ini industri tekstil nasional masih sangat bergantung pada bahan baku impor karena standar benang dan serat yang diminta pasar internasional belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produk lokal. Akibatnya, pelaku industri semakin tertekan ketika kurs dolar menguat.

Ia menilai Indonesia sebenarnya memiliki sumber daya alam yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi bahan baku tekstil ramah lingkungan atau eko-tekstil. Namun, potensi tersebut sejauh ini belum banyak diteliti dan dimanfaatkan secara maksimal.

Selain inovasi, Felix menegaskan bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi kunci penting dalam kebangkitan industri tekstil nasional. Ia meyakini kualitas SDM Indonesia tidak kalah dibanding negara lain dan mampu bersaing di tingkat global apabila mendapatkan dukungan pendidikan serta teknologi yang memadai.

Untuk itu, ia membuka peluang untuk menjembatani kolaborasi terbentuknya kerja sama internasional antara universitas di Jerman dengan institusi di Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat membuka akses pembelajaran teknologi tekstil modern bagi mahasiswa Indonesia.

Di sisi lain, praktisi senior tekstil, Liliek Setyawan, menilai kondisi industri tekstil nasional saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Meski demikian, ia melihat masih ada daya tarik besar dari sektor tekstil Indonesia di mata investor asing.

“Kalau memang investor asing masuk ke Indonesia, berarti ada sesuatu yang menarik di Indonesia. Pertanyaannya, kenapa pelaku industri nasional justru tampak lesu,” kata Liliek.

Liliek menyebutkan, industri tekstil kini mulai bergeser ke wilayah Jawa Tengah seiring masuknya investasi besar dari luar negeri, terutama di kawasan industri seperti Kendal dan Batang. Namun, menurutnya kondisi tersebut juga menjadi tantangan bagi industri lokal yang harus mampu bersaing dari sisi teknologi maupun efisiensi produksi.

Ia menambahkan, pemerintah saat ini mulai memberikan dukungan melalui program revitalisasi mesin industri tekstil. Kebijakan tersebut dinilai menjadi angin segar bagi pelaku industri nasional agar mampu mengejar ketertinggalan teknologi dari negara lain.

Baik Felix maupun Liliek berharap pemerintah dapat memperbesar dukungan terhadap riset, inovasi, serta pengembangan SDM industri tekstil nasional. Mereka menekankan bahwa kolaborasi antara akademisi, pelaku industri, dan pemerintah menjadi kunci utama untuk membangkitkan kembali daya saing tekstil Indonesia di pasar global. (SF)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....