Serbuan Kain Impor Tiongkok Tekan Industri Tekestil Lokal, PT DMST PHK 60% Pekerja
- 17 Mei 2026 14:11 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN - Industri tekstil dalam negeri tengah berada dalam kondisi kritis akibat derasnya arus impor kain dari China yang membanjiri pasar domestik. Ketidakmampuan bersaing dari sisi harga dan teknologi memaksa sejumlah pabrik besar melakukan efisiensi ekstrem, termasuk pengurangan tenaga kerja secara massal.
Salah satu dampak nyata dirasakan oleh PT Delta Merlin Sandang Tekstil (DMST) 1 Sragen, bagian dari Duniatex Group. Perwakilan Advokasi DMST 1, Suparno, mengungkapkan bahwa selisih harga antara produk lokal dan impor sangat mencolok. Hal inilah yang menjadi penyebab utama produk dalam negeri tidak terserap pasar.
"Efeknya besar, produksi turun 60 sampai 70 persen. Kain dari China dijual sekitar 7.000 sampai 8.000 Rupiah, padahal biaya produksi kita di sini kalau dijual minimal 15.000 Rupiah. Kita kalah jauh karena di sana mesinnya sudah canggih, bahkan ada yang pakai robot, sementara di sini mesin sudah lama," ujar Suparno saat memberikan keterangan di Gedung DPRD, baru-baru ini.
Suparno menambahkan, kondisi ini merata di seluruh jaringan grup perusahaan. Menurutnya, pemerintah seharusnya sudah sejak lama melakukan pembatasan atau menghentikan keran impor kain agar industri tekstil nasional tidak semakin terpuruk.
Senada dengan hal tersebut, HRD PT DMST 1 Sragen, Abbel Deni Prasojo, menjelaskan bahwa efisiensi karyawan di perusahaannya telah mencapai angka yang mengkhawatirkan. Sejak masa pandemi COVID-19 hingga saat ini, jumlah pengurangan karyawan di DMST 1 mencapai 60 persen.
"Pengurangan karyawan di tempat kami paling besar. Dari standar awal sekitar 4.800 karyawan, kini yang tersisa tinggal 1.270 orang. Jadi sudah berkurang 60 persen lebih. Di wilayah lain seperti Demak, bahkan ada empat perusahaan di bawah grup kami yang terpaksa force close atau tutup total," kata Abbel.
Meski empat unit DMST di Sragen masih beroperasi, namun keberlangsungan usaha terus terancam jika tidak ada intervensi kebijakan dari pemerintah pusat. Para pengusaha berharap pemerintah segera memberlakukan pembatasan impor yang ketat. Jika pembiaran terus berlanjut, dikhawatirkan gelombang PHK massal akan meluas dan meruntuhkan ekosistem industri tekstil yang menjadi tumpuan ribuan pekerja. MI
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....