Kain Impor China Banjir Pasar Domestik, Begini Respons Komisi IV DPRD Sragen
- 17 Mei 2026 22:37 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN - Banjir produk tekstil impor, khususnya kain dari China, dilaporkan kian mengancam eksistensi industri tekstil di tanah air. Dampak nyata dari fenomena ini kini menghantam Kabupaten Sragen, di mana PT Delta Merlin Sandang Tekstil (DMST) 1 terpaksa melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 60 persen tenaga kerjanya akibat kalah bersaing.
Menanggapi situasi kritis tersebut, jajaran Komisi IV DPRD Kabupaten Sragen angkat bicara. Ketua Komisi IV DPRD Sragen, Sugiyamto, menilai dominasi produk China dalam pasar bahan baku tekstil sebenarnya sudah diprediksi sejak lama.
Sugiyamto mengungkapkan bahwa kecanggihan teknologi dan efisiensi produksi di China membuat harga produk mereka jauh lebih murah dengan kualitas yang bersaing. Menurutnya, pelaku usaha lokal tidak punya pilihan lain selain melakukan terobosan kerja sama agar bisa bertahan.
| Baca juga: PMS Gelar Talkshow Motivasi Belajar ke China |
Ia menekankan pentingnya strategi bisnis yang adaptif dengan mencari sumber bahan baku yang lebih terjangkau agar operasional pabrik kembali pulih dan mampu menyerap tenaga kerja kembali.
"Kalau enggak ada sebuah terobosan untuk kerja sama dengan mereka, akan menjadi hal yang buruk karena harganya itu pasti dihantam di bawahnya. Dia produksinya lebih murah, alatnya lebih canggih, bahan bakunya ada, dan kualitasnya juga lebih bagus," ujar Sugiyamto kepada wartawan, Sabtu 16 Mei.
"Segera berkomunikasi menjalin kerja sama, supaya bahan bakunya belanja murah, jualnya tinggi, bisa merekrut tenaga kerja lagi. Itulah prinsip tata cara berbisnis," imbuhnya.
Terkait wacana pembatasan impor, Politisi Senior PDIP itu menyerahkan sepenuhnya kebijakan tersebut kepada pemerintah pusat. Namun dari sisi praktisi bisnis, ia menegaskan perlunya ketajaman dalam melihat peluang kerja sama dengan negara yang mampu memberikan margin keuntungan terbesar.
Di sisi lain, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sragen, Pujono Elly Bayu Effendi, menyatakan keprihatinannya atas kondisi yang menimpa para pelaku usaha tekstil besar di wilayahnya. Sebagai sesama pelaku usaha, ia mengaku memahami betul beratnya beban yang ditanggung perusahaan saat ini.
Ia berkomitmen untuk meneruskan aspirasi terkait dampak destruktif impor kain ini melalui jalur partai politik agar mendapatkan atensi serius dari pembuat kebijakan di Jakarta.
"Panjenengan (Anda) ini pedagang besar. Keluh kesah panjenengan sebagai perwakilan masyarakat Sragen lewat partai politik masing-masing, akan kita sampaikan ke komandan-komandan kami yang ada di pusat," ujar Bayu Effendi.
Derasnya arus kain impor dari China yang lebih murah dan berkualitas. Adanya intervensi pusat atau skema kerja sama bahan baku yang menguntungkan industri dalam negeri. Para pelaku usaha di sektor tekstil Sragen berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memproteksi industri padat karya agar gelombang PHK tidak semakin meluas. MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....