Ribuan Hektare Sawah di Sragen Dibiarkan Bero Dampak El Nino

  • 16 Agt 2026 07:58 WIB
  •  Surakarta

RRI.co.id, Sragen – Dampak fenomena El Nino dan musim kemarau kering menyebabkan sekitar 5.000 hektare lahan pertanian di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, tidak dapat ditanami padi atau mengalami masa bero. Kondisi ini terjadi akibat minimnya pasokan air irigasi di wilayah tersebut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah memprediksi hujan baru akan mulai turun pada November 2026. Situasi kemarau panjang ini memicu kekhawatiran para petani akan potensi gagal panen pada tanaman padi yang baru mulai ditanam sejak awal Agustus 2026.

Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Sragen mencatat, dari total 40.000 hektare lahan pertanian pangan di Sragen, saat ini hanya 35.000 hektare yang aktif ditanami padi. Sisa 5.000 hektare lainnya terpaksa dibiarkan kosong karena keterbatasan sumber air.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen, Suratno, menyatakan bahwa fenomena El Nino mengancam produktivitas padi secara signifikan akibat krisis air bersih. Saat ini, rata-rata usia tanaman padi petani baru memasuki tujuh hari.

"Musim kemarau tahun ini cukup terik. Petani khawatir saat tanaman memasuki umur 40 hari nanti, di mana kebutuhan air sedang tinggi-tingginya," ujar Suratno, belum lama ini.

Ia menambahkan, ketergantungan pada saluran irigasi menjadi risiko besar bagi petani yang tidak memiliki sumur dalam. Penurunan debit air irigasi diperkirakan dapat mencapai 50 persen memasuki bulan September, seperti yang mulai terjadi di kawasan Tunggul yang saat ini debit airnya sudah menyusut 30 persen.

"Jika debit air irigasi terus merosot, ancaman gagal panen nyata di depan mata. Namun, kami mendapat informasi bahwa Sragen akan menerima bantuan 200 unit sumur dalam sebagai solusi mengatasi kekeringan," lanjutnya.

Secara terpisah, Kepala Bidang Ketahanan Pangan DKP3 Sragen, Suparno, menjelaskan bahwa kendati luas tanam pada Musim Tanam (MT) III menyusut menjadi 35.000 hektare, hasil produksi per hektare diperkirakan justru meningkat dibandingkan MT I dan MT II.

"Lahan seluas 35.000 hektare yang ditanami dipastikan memiliki pasokan air yang cukup. Rata-rata produktivitasnya diproyeksikan mencapai 7,5 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare, naik dibandingkan MT I dan II yang di bawah 7 ton per hektare," ujar Suparno.

Menurut Suparno, terik matahari yang optimal selama musim kemarau membantu proses fotosintesis tanaman berjalan lebih maksimal. Di samping itu, tingkat serangan hama dan penyakit tanaman selama kemarau cenderung jauh lebih rendah dibandingkan saat musim hujan. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....