Penyaluran Pupuk ZA di Sragen Baru 16 Persen, Serapan Pupuk Organik Tertinggi

  • 22 Jul 2026 14:52 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN — Penyaluran pupuk bersubsidi jenis ZA kepada petani di Kabupaten Sragen selama dua musim tanam tercatat masih sangat rendah, yakni baru mencapai sekitar 16 persen (15,78%) atau sebanyak 85,725 ton dari total alokasi 546,8 ton. Meski demikian, penyaluran pupuk bersubsidi secara umum di Kabupaten Sragen berada pada tren positif dengan rata-rata mencapai 50 persen.

Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Sragen, Laksana Ambar Kusuma, menjelaskan bahwa rendahnya penyerapan pupuk ZA disebabkan oleh peruntukannya yang spesifik serta keterbatasan komoditas tanaman.

“Hanya sedikit kecamatan yang menyerap pupuk ZA sehingga serapannya masih rendah di angka 16 persen karena peruntukannya bagi tanaman tebu dan belum banyak petani yang menanam tebu,” kata Ambar, Selasa 21 Juli.

Ambar menambahkan, penyaluran pupuk bersubsidi ini ditujukan untuk mendukung produktivitas pertanian di 20 kecamatan mengacu pada Keputusan Kepala DKP3 Sragen Nomor 500.6.7.4/116/2025. Pemerintah menyalurkan empat jenis pupuk bersubsidi, yakni Urea, NPK, Organik, dan ZA, baik melalui mekanisme Kartu Tani maupun pencatatan manual.

Hingga Juli 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di Kabupaten Sragen menunjukkan capaian signifikan. Jenis pupuk Organik alokasi 11.000 ton realisasi penyaluran 7.695,316 ton atau 70,00% menjadi yang tertinggi. Kemudian Urea total alokasi 39.250 ton, realisasi penyaluran 20.394,248 ton atau 51,96 persen.

Lantas NPK total alokasi 39.750 ton, realisasi penyaluran 19.684,110 ton atau 49,56 persen. Terakhir ZA54 total alokasi 6,8 ton, realisasi penyaluran 85,725 ton atau 15,78 persen.

"Pupuk organik mencatatkan tingkat serapan tertinggi dibanding jenis lainnya. Sebaliknya, penyaluran pupuk bersubsidi secara umum berfluktuasi mengikuti siklus musim tanam," ujar Ambar.

Penyaluran sempat rendah pada Januari, lalu melonjak signifikan pada Februari hingga April seiring dimulainya Musim Tanam (MT) II. Puncak penyaluran terjadi pada April dengan serapan Urea mencapai 4.897,133 ton dan NPK sebesar 4.476,32 ton.

Setelah melandai pada Mei, penyaluran kembali meningkat pada Juni hingga Juli dengan penyerapan Urea sebesar 4.109,879 ton dan NPK 4.047,33 ton.

Penyaluran pupuk tersebar di seluruh kecamatan dengan karakteristik kebutuhan yang bervariasi. Seperti di Kecamatan Mondokan mencatat penyerapan tertinggi pada Januari. Di mana realisasi kumulatif hingga Juli mencapai 56%.

Kecamatan Sumberlawang, penyerapan berlangsung konsisten dengan realisasi Urea mencapai 58% dan NPK 59%. Kecamatan Plupuh, serapan relatif stabil di angka 51% untuk Urea dan 53% untuk NPK.

Mengenai ketersediaan stok memasuki Musim Tanam (MT) III, DKP3 memastikan pasokan pupuk bersubsidi dalam kondisi aman. Hal ini lantaran cukup banyak lahan pertanian yang bera atau tidak ditanami akibat keterbatasan air irigasi.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen, Suratno. Ia memperkirakan luas sawah bera di Sragen pada MT III mencapai sekitar 30% hingga 40%.

“Hari-hari ini sudah mulai pemupukan di MT III. Selama ini tidak ada masalah. Untuk harga juga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) di tingkat PPTS atau kios resmi. Saya kira perlu pengawasan pada penjualan pupuk di PPTS karena beredar pupuk di luar PPTS dengan harga di atas HET,” ujar Suratno. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....