Data Penerima Bansos Tak Valid, Orang Meninggal Masih Tercatat Bikin Kisruh
- 06 Jun 2026 17:00 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN -- Penyaluran bantuan sosial (bansos) pangan dari Bulog di Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, sempat kisruh. Akibatnya, ratusan warga penerima manfaat harus rela mengantre hingga berjam-jam sejak pagi hingga sore hari, Jum'at 5 Juni 2026.
Informasi yang dihimpun, proses pembagian yang menyasar 501 warga tersebut tidak berjalan efektif. Selain karena keterbatasan waktu di hari Jumat, persoalan klasik terkait validasi data dan minimnya personel di lapangan menjadi pemicu utama molornya distribusi.
Kepala Desa (Kades) Tenggak, Setyanto, tidak menampik adanya kendala tersebut. Hingga lebih dari pukul 15.00 WIB, proses penyaluran baru menyentuh angka 70 persen.
Pendistribusian dipastikan tidak bisa rampung dalam satu hari dan terpaksa molor ke hari berikutnya. "Penerimanya ada 501 orang, jadi memang membutuhkan waktu cukup lama. Apalagi ini hari Jumat yang waktunya pendek karena terpotong jeda salat Jumat. Banyak yang kelelahan menunggu lama," ujar Setyanto Jumat 5 Juni.
Menurut Kades, dalam melayani lebih dari 500 warga, Bulog terpantau hanya menerjunkan dua orang petugas. Rasio yang sangat tidak seimbang ini dinilai menjadi biang keladi lambatnya pelayanan.
Guna mengurai antrean, pihak pemerintah desa akhirnya terpaksa menerjunkan pengurus RT untuk membantu proses teknis di lapangan.
Tak hanya perkara teknis kekurangan personel, validasi data penerima bantuan dari pusat lagi-lagi menjadi problem.
Pemerintah Desa Tenggak menemukan banyak revisi, salah satunya adalah masih tercantumnya nama warga yang sudah meninggal dunia sebagai penerima bantuan aktif.
Di sisi lain, kondisi ini memicu kecemburuan sosial di masyarakat. Masih ada warga yang merasa sangat membutuhkan dan berhak, namun justru tidak mendapatkan undangan resmi dari Bulog karena namanya tidak masuk dalam sistem.
"Kami dari desa hanya membagikan undangan sesuai data yang dikirim oleh Bulog. Faktanya, ada data yang sudah meninggal tetapi namanya masih keluar," ucap dia.
Perihal Kisruh data bansos tersebut pihak Dinas Sosial Kabupaten Sragen mengaku tidak tahu menahu. Menurut Kepala Dinsos Sragen Yuniarti, bansos tersebut kerjasama Bulog dengan Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan.
"Ini progam yang baru pembagian beras sama minyak lha itu liding sektornya Dinas Ketahanan Pangan, kalau datanya dari mana saya kurang tahu tapi mestinya dari DTSEN (Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional). Saya gak bisa jawab karena tidak ngurusi, nanti malah disalahkan," ujar Yuniarti.
Sebagai informasi, Perum Bulog menyalurkan bantuan pangan kepada 154.117 keluarga penerima bantuan (PBP) di 208 desa dan kelurahan se-Kabupaten Sragen. Program ini mencakup distribusi 3.082,34 ton beras dan 616.468 liter MinyaKita yang ditargetkan selesai paling lambat 30 Juni 2026.
Pemimpin Cabang Bulog Surakarta, Nanang Harianto menyampaikan, setiap penerima mendapatkan 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng. Di Kelurahan Sragen Kulon, bantuan disalurkan kepada 1.538 keluarga dengan total 30.760 kilogram beras dan 6.152 liter MinyaKita.
Dalam proses penyaluran, Bulog menemukan sejumlah kemasan beras yang rusak saat disimpan di kelurahan. Sebanyak 16 sak beras diganti sebelum dibagikan kepada warga, termasuk satu sak yang dilaporkan rusak akibat digerogoti tikus.
"Seluruh beras yang rusak telah diganti agar bantuan yang diterima masyarakat tetap layak dan sesuai ketentuan." MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....