IDI Jatim Ingatkan Risiko Heat Stroke saat Cuaca Panas
- 06 Okt 2026 21:51 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Cuaca panas yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Timur perlu diwaspadai karena dapat memicu berbagai gangguan kesehatan atau heat illness. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Jawa Timur, dr. Budi Himawan, mengingatkan masyarakat mengenali gejala gangguan akibat panas sejak dini, terutama heat stroke yang dapat mengancam keselamatan jiwa.
Dokter Budi menjelaskan, heat illness memiliki beberapa bentuk dengan tingkat keparahan yang berbeda. Gangguan tersebut antara lain heat rash berupa ruam pada kulit, heat oedema atau pembengkakan pada kaki, serta heat cramps yang ditandai kram atau nyeri otot.
Selain itu, terdapat heat exhaustion atau kelelahan akibat panas yang dapat ditandai dengan tubuh lemas, pusing dan mual. Kondisi yang paling berat adalah heat stroke, ketika tubuh tidak lagi mampu mengatur suhu secara normal.
“Heat illness itu macam-macam. Ada heat rash, kemudian heat oedema atau bengkak kaki, heat cramps berupa nyeri otot, kemudian heat exhaustion yang berupa lemas, pusing dan mual. Yang paling tinggi adalah heat stroke,” ujar dr. Budi dalam Dialog Aspirasi Pro 1 RRI Surabaya, Selasa 6 Oktober 2026.
Menurut dr. Budi, masyarakat tidak seharusnya memaksakan aktivitas ketika mulai merasakan gejala akibat paparan panas. Pengurangan aktivitas fisik, menghindari paparan langsung sinar matahari dan menjaga kecukupan cairan menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi semakin berat.
“Untuk menghindari heat exhaustion, kita harus menghindari paparan langsung, aktivitas berat dikurangi, menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik, dan menggunakan pakaian yang ringan,” jelasnya.
Anjuran tersebut sejalan dengan Kementerian Kesehatan yang meminta masyarakat menghindari kontak langsung dengan sinar matahari, mencukupi kebutuhan air dan menggunakan pakaian berbahan ringan serta longgar ketika berada di luar ruangan.
WHO juga menganjurkan masyarakat menggunakan pakaian ringan dan longgar, minum air secara teratur, serta menghindari aktivitas berat pada waktu terpanas. Kelompok lanjut usia dan orang dengan penyakit kronis, termasuk diabetes, juga disebut lebih rentan terhadap dampak panas.
Dokter Budi menegaskan, heat stroke merupakan kondisi yang perlu mendapat perhatian serius karena dapat berujung pada kondisi yang mengancam jiwa. Masyarakat diminta tidak mengabaikan perubahan kondisi tubuh setelah terpapar panas.
“Yang perlu kita waspadai adalah heat stroke, karena kalau sudah sampai kondisi tersebut bisa mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang,” tegasnya.
Kementerian Kesehatan menjelaskan, heat stroke merupakan kondisi paling berat akibat paparan panas. Suhu tubuh dapat meningkat dengan cepat hingga lebih dari 40 derajat Celsius dan disertai gangguan pada sistem saraf. Gejalanya antara lain suhu tubuh tinggi, sakit kepala, mual dan muntah, jantung berdebar, kebingungan, kelemahan, kejang hingga kehilangan kesadaran.
WHO menyebut heat stroke sebagai kegawatdaruratan medis yang berpotensi fatal. Pertolongan medis harus segera dicari apabila seseorang mengalami pusing atau mual berat, kebingungan, berhenti berkeringat atau kehilangan kesadaran.
Kewaspadaan, kata dr. Budi, perlu ditingkatkan pada kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap dampak panas. Di antaranya lanjut usia, penderita penyakit penyerta atau komorbid, serta masyarakat dengan kondisi yang memengaruhi sistem imunitas.
“Yang lebih rentan itu lansia, kemudian orang-orang dengan komorbid, termasuk yang mempunyai masalah imunitas seperti HIV maupun diabetes,” ujarnya.
WHO juga menyebut lanjut usia dan orang dengan penyakit kronis memiliki risiko lebih besar mengalami komplikasi ketika terpapar panas. Panas dapat memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada sehingga kelompok tersebut perlu mendapat perhatian lebih ketika suhu lingkungan meningkat.
Untuk mencegah gangguan akibat panas, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas fisik berat, terutama ketika berada di bawah paparan matahari secara langsung. Kebutuhan cairan juga perlu dipenuhi secara teratur, sementara pakaian yang digunakan sebaiknya ringan, longgar dan nyaman.
Apabila mulai muncul keluhan seperti lemas, pusing, mual atau kram otot, aktivitas sebaiknya segera dihentikan dan tubuh dipindahkan ke tempat yang lebih sejuk. Jika kondisi semakin berat, terutama disertai kebingungan, kejang, pingsan atau perubahan kesadaran, pertolongan medis perlu segera dicari.
Dengan cuaca panas yang masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Timur, termasuk Kota Surabaya, kewaspadaan terhadap heat illness menjadi penting. Mengenali gejala sejak awal, mengurangi paparan panas, menjaga hidrasi dan tidak memaksakan aktivitas dapat membantu mencegah gangguan berkembang menjadi heat stroke yang mengancam jiwa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....