Oktober Masih Kemarau, Suhu Jatim Terasa Terik

  • 06 Okt 2026 11:40 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Jawa Timur masih berada pada periode musim kemarau pada Oktober 2026, meski telah melewati puncak musim kemarau yang berlangsung pada Agustus hingga September. Kondisi tersebut membuat cuaca di sejumlah wilayah, termasuk Surabaya, masih terasa terik dengan suhu udara yang cukup tinggi pada siang hari.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan, mengatakan Jawa Timur secara umum telah melewati puncak musim kemarau. Namun, sejumlah wilayah masih berada dalam periode kemarau dan belum seluruhnya memasuki musim penghujan.

“Memang kondisi cuaca di Jawa Timur secara umum saat ini kita sudah lepas dari puncak musim kemarau, yang terjadi pada Agustus hingga September. Tetapi pada Oktober ini kita masih berada pada musim kemarau,” kata Taufiq dalam Dialog Aspirasi Pro 1 RRI Surabaya, Selasa 6 Oktober 2026.

Kondisi tersebut sejalan dengan prediksi BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur. Dalam prediksi musim kemarau 2026, puncak musim kemarau di Jawa Timur secara dominan terjadi pada Agustus, mencakup 53 Zona Musim atau sekitar 70,9 persen wilayah Jawa Timur. Sementara itu, sifat hujan selama musim kemarau 2026 diprediksi berada di bawah normal pada 56 Zona Musim atau sekitar 75,5 persen wilayah Jawa Timur.

Kondisi kering tersebut masih terlihat pada Oktober. Analisis dinamika atmosfer BMKG yang diperbarui 5 Oktober 2026 menunjukkan sebagian besar Pulau Jawa berpeluang mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan pada Oktober. Bahkan, pada November 2026, kondisi curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan masih berpeluang terjadi di sebagian wilayah Jawa Timur.

Menurut Taufiq, kondisi kemarau yang masih berlangsung turut membuat masyarakat merasakan cuaca yang lebih terik. Namun, ia mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan rasa panas yang dirasakan dengan informasi mengenai suhu ekstrem yang beredar di media sosial.

Taufiq menyebut suhu maksimum di Jawa Timur berada pada kisaran 39 derajat Celsius, sedangkan untuk wilayah Surabaya berada pada kisaran 33 hingga 36 derajat Celsius. Karena itu, informasi yang menyebut suhu Surabaya dan sekitarnya maupun wilayah Jawa Timur mencapai 47 hingga 48 derajat Celsius tidak benar.

“Kalau ada informasi yang beredar bahwa Surabaya dan sekitarnya ataupun Jawa Timur suhunya mencapai 47 sampai 48 derajat Celsius, itu informasi yang tidak benar. Yang berhak memberikan informasi berkaitan dengan cuaca dan suhu adalah BMKG,” ujarnya.

Taufiq menjelaskan, cuaca panas yang dirasakan masyarakat Jawa Timur saat ini tidak hanya dipengaruhi kondisi musim kemarau. Fenomena El Niño serta posisi Matahari yang sedang bergerak menuju belahan bumi selatan turut memengaruhi kondisi tersebut.

“Rasa panas yang terjadi saat ini tidak hanya karena musim kemarau. Ada pengaruh El Niño, kemudian posisi Matahari juga sekarang sudah bergerak ke belahan bumi selatan. Setelah berada di garis ekuator sekitar 23 September, Matahari bergerak ke selatan sehingga kita masih mendapatkan penyinaran yang cukup kuat,” ujar Taufiq.

Penjelasan tersebut sejalan dengan informasi BMKG mengenai gerak semu Matahari. Setelah ekuinoks September, posisi semu Matahari bergerak dari belahan bumi utara menuju belahan bumi selatan. Intensitas radiasi Matahari juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi variasi suhu udara di suatu wilayah.

Selain posisi Matahari, kondisi El Niño saat ini juga berada pada intensitas sangat kuat. Berdasarkan analisis dinamika atmosfer BMKG yang diperbarui 5 Oktober 2026, indeks ENSO tiga bulanan periode Juli-Agustus-September 2026 mencapai +2,70, yang menunjukkan El Niño dengan intensitas sangat kuat.

BMKG menyebut El Niño sangat kuat, bersama IOD positif, dapat mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia. Kombinasi kedua fenomena tersebut berkontribusi terhadap kondisi atmosfer yang lebih kering dan berpotensi memperpanjang periode kekeringan.

Kondisi tersebut membuat cuaca terik masih dapat dirasakan meskipun Jawa Timur telah melewati puncak musim kemarau. Namun, Taufiq menegaskan kondisi itu tidak berarti kemarau akan berlangsung tanpa perubahan.

Menurutnya, Jawa Timur akan memasuki masa transisi atau pancaroba sebelum sejumlah wilayah secara bertahap memasuki musim penghujan. Peralihan tersebut tidak berlangsung secara serentak karena setiap wilayah memiliki karakteristik musim yang berbeda.

“Jadi setelah ini kita akan memasuki masa transisi atau pancaroba. Tidak langsung seluruh Jawa Timur masuk musim hujan, karena waktunya akan berbeda-beda di masing-masing wilayah,” kata Taufiq.

Prediksi BMKG menunjukkan awal musim hujan 2026/2027 juga tidak terjadi secara serentak. Sebanyak 529 Zona Musim atau 61,08 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal musim hujan yang lebih lambat dibandingkan rata-rata klimatologisnya.

Untuk Jawa Timur, sebagian wilayah masih berpotensi mengalami kondisi kering hingga November. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa berakhirnya puncak musim kemarau tidak serta-merta menandakan seluruh wilayah telah memasuki musim hujan.

Kondisi kering yang masih berlangsung juga perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan. BMKG pada awal Oktober 2026 juga masih mencatat kondisi kering mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia dan mengingatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

Dengan demikian, cuaca terik yang dirasakan masyarakat Jawa Timur pada Oktober 2026 berkaitan dengan masih berlangsungnya musim kemarau, pengaruh El Niño yang sangat kuat, serta posisi semu Matahari yang bergerak menuju belahan bumi selatan. Masyarakat diimbau tetap mengacu pada informasi resmi BMKG untuk mengetahui perkembangan suhu, cuaca, dan perubahan musim di wilayah masing-masing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....