Program Sumur Bor Bantu Penuhi Kebutuhan Air Bersih
- 02 Okt 2026 10:05 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Kebutuhan air bersih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat di sejumlah wilayah, terutama ketika musim kemarau. Kondisi tersebut mendorong berbagai upaya penyediaan air untuk membantu masyarakat, pesantren, maupun desa yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Hal itu menjadi pembahasan dalam program Tanjung Perak Pagi FOZ Jatim RRI Surabaya pada Kamis, 1 Oktober 2026, bersama M. Mahfudz Alafghoni, Koordinator Fundraising LAZNAS BMH Jawa Timur, dengan topik “Raih Keberkahan Melalui Sedekah Jariyah Sumur Bor”.
Mahfudz menjelaskan, Baitul Maal Hidayatullah atau BMH merupakan Lembaga Amil Zakat Nasional yang telah legal sejak tahun 2001. BMH disebut hadir di 27 provinsi di Indonesia serta memiliki cabang di 24 kabupaten/kota di Jawa Timur. Dalam pelaksanaan programnya, BMH memiliki empat bidang utama, yaitu pendidikan, dakwah, ekonomi, serta sosial kemanusiaan, dengan program sumur bor termasuk dalam bidang sosial kemanusiaan.
Menurut Mahfudz, program sumur bor dilatarbelakangi persoalan kekeringan dan kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah. Berdasarkan data BPBD Jawa Timur yang disampaikan dalam dialog, terdapat potensi kekeringan di 815 desa yang tersebar di 222 kecamatan pada 26 kabupaten di Jawa Timur.
Program tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat, pesantren, dan desa yang mengalami krisis air bersih agar kebutuhan air dapat terpenuhi secara berkelanjutan, terutama ketika musim kemarau. Mahfudz menjelaskan, penyediaan air bersih juga memiliki landasan dalam ajaran Islam.
“Saat Saad bin Ubadah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang sedekah terbaik untuk almarhumah ibunya, salah satunya adalah Saqyul Ma’, yaitu memberikan air,” ujar Mahfudz.
Menurutnya, landasan tersebut menjadi salah satu dasar yang dikaitkan dengan pelaksanaan sedekah jariyah melalui penyediaan air bagi masyarakat. Pelaksanaan pembangunan sumur bor dilakukan melalui beberapa tahapan.
Tahap awal berupa assessment untuk mengumpulkan data calon penerima manfaat, kemudian dilanjutkan dengan tes geolistrik untuk mengidentifikasi titik potensi air. Setelah itu dilakukan pengeboran dan instalasi pendukung, seperti pipa, pendorong, keran, serta tandon air, sebelum dilanjutkan dengan peresmian, pemanfaatan oleh warga, pelaporan, dan evaluasi.
Mahfudz menyampaikan, sejak tahun 2020 hingga September 2026, BMH telah membangun sumur bor di 294 titik yang tersebar di 31 kabupaten, 190 kecamatan, dan 267 desa di Jawa Timur. Dalam dialog tersebut, ia menyebut target awal program adalah menuntaskan 313 titik sumur bor di Jawa Timur, yang dikaitkan dengan filosofi jumlah pasukan kaum muslimin pada Perang Badar. Sejumlah wilayah penerima manfaat yang disebut antara lain Probolinggo dan Bojonegoro, dengan 23 titik pembangunan sumur bor.
Untuk meningkatkan ketepatan proses pengeboran, BMH juga disebut bekerja sama dengan Fakultas Teknik Geofisika Universitas Brawijaya Malang. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk pengujian geolistrik sehingga titik pengeboran dapat ditentukan dengan lebih efektif, efisien, dan memiliki tingkat akurasi yang diharapkan. Selain sumur bor, penyediaan air juga dilakukan melalui program pipanisasi dari sumber air yang berjarak sekitar 2 hingga 8 kilometer serta penyaluran air bersih menggunakan truk tangki di sejumlah wilayah, seperti Ponorogo, Lamongan, dan Trenggalek.
Mahfudz menekankan bahwa penyediaan air bersih merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan. “Air bersih adalah sumber kehidupan dan wujud nyata kepedulian. Melalui program sumur bor ini, kami mengajak pendengar RRI dan masyarakat secara umum untuk menjadi bagian dari perjalanan kebaikan, mengalirkan harapan dan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan,” ujar Mahfudz.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....