Widhie Kurniawan: Radio Tetap Eksis di Era Digital
- 11 Sep 2026 10:54 WIB
- Surabaya
Poin Utama
- Sekitar 25 juta orang masih mendengarkan radio, menunjukkan radio tetap memiliki kekuatan sebagai media massa di era digital.
- Komisioner KPI Widhie Kurniawan menekankan bahwa radio berbeda dengan media sosial karena jangkauannya yang masif dan terstruktur.
- Radio tetap relevan dan eksis sebagai saluran komunikasi utama meskipun menghadapi persaingan dari platform digital yang terus berkembang.
RRI.CO.ID, Surabaya - Radio masih memiliki kekuatan di tengah derasnya perkembangan platform digital. Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Widhie Kurniawan menyebut sekitar 25 juta orang masih mendengarkan radio.
Menurut Widhie, jumlah tersebut menunjukkan radio masih memiliki kekuatan sebagai media yang menjangkau masyarakat secara massal. Hal itu berbeda dengan media sosial yang terdiri dari banyak akun dengan jumlah pengikut dan penonton yang berbeda-beda."Radio tetap eksis," kata Widi.
Widhie mengatakan radio tidak bernasib seperti pager yang akhirnya ditinggalkan setelah muncul teknologi baru seperti telepon seluler. Radio tetap bertahan meski teknologi komunikasi terus berkembang.
Persoalannya, kata Widhie, adalah bagaimana radio dikelola agar tetap eksis. Ada tiga hal yang menurutnya menjadi kunci, yakni inovasi, kreativitas, dan adaptasi."Kalau bisa melakukan tiga hal itu, selamat," ujarnya.
Widhie menilai perkembangan teknologi justru dapat dimanfaatkan radio untuk memperluas jangkauan. Salah satunya dengan menggabungkan siaran radio dan platform digital.
Menurut dia, media sosial dapat digunakan untuk membangun interaksi dengan pendengar. Komentar masyarakat di media sosial dapat diangkat ke dalam siaran radio, bahkan pendengar dapat dihubungi langsung untuk ikut berbicara.
Dengan pola tersebut, pendengar tidak hanya mendengarkan siaran. Mereka juga merasa terlibat karena percakapan dan tanggapan mereka mendapat ruang.
Widhie mencontohkan ketika seorang penyiar sedang siaran, akun Instagram atau TikTok radio seharusnya ikut dimainkan secara bersamaan. Pendengar dapat dipancing untuk memberikan komentar, kemudian komentar tersebut dibawa kembali ke siaran."Emosinya terbangun," ujarnya.
RRI Harus Jadi Media Terpercaya
Widhie mengatakan RRI telah memiliki visi untuk menjadi media yang terpercaya, relevan, berdampak, dan menginspirasi Indonesia. Menurut dia, kata "terpercaya" menjadi salah satu hal penting di tengah maraknya informasi di media sosial.
Widhie menyoroti informasi di media sosial yang terkadang tidak mencantumkan waktu kejadian secara jelas. Informasi lama dapat kembali muncul dan dianggap sebagai peristiwa baru.
"Media sosial itu susah dipercaya, nggak pakai tanggal," katanya.
Karena itu, Widhie menilai RRI harus mengambil posisi sebagai media yang memberikan informasi terverifikasi dan terpercaya."RRI hadir. Terpercaya," ujarnya.
Widhie juga mendorong reporter RRI memperkuat ground reporting. Menurutnya, reporter yang berada langsung di lapangan memberikan warna yang berbeda dibandingkan pemberitaan yang hanya dilakukan melalui sambungan telepon.
"Reporter yang ada di lapangan jauh memberikan warna," katanya.
Jangan Kalah, Kolaborasi dengan Digital
Widhie menegaskan radio tidak perlu memposisikan media sosial sebagai lawan. Menurut dia, radio justru harus memanfaatkan teknologi yang tersedia untuk memperkuat keberadaannya.
"Kita nggak usah bertanding dengan social media. Kita melawan dia? Enggak. Tapi kita berkolaborasi dengan mereka," ujar Widhie.
Ia mengatakan radio dan platform digital memiliki karakter masing-masing. Radio tetap memiliki kekuatan pada audio dan cerita."Audio itu tidak bisa dihilangkan juga. Itu khas," katanya.
Widhie juga menyebut perkembangan streaming membuat radio tidak lagi sepenuhnya dibatasi wilayah. Siaran RRI melalui platform digital dapat didengarkan hingga luar negeri.
Namun, digitalisasi menurutnya bukan berarti menjadikan RRI sekadar pembuat konten digital."Memanfaatkan teknologinya," ujarnya.
Bagi Widhie, konvergensi media harus dilakukan dengan tetap mempertahankan karakter masing-masing platform."Konten is the king. Tapi queen nya juga harus ada," katanya.
Pada akhirnya, Widhie meminta RRI memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang dapat dipercaya."RRI sebagai media verifikator," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....