Islam Ajarkan Cara Menghadapi Kekecewaan kepada Manusia

  • 09 Sep 2026 06:37 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Islam mengajarkan umatnya untuk menghadapi kekecewaan kepada manusia dengan sikap lemah lembut, tidak reaktif, menjaga ucapan, memaafkan, serta tetap bertawakal kepada Allah SWT. Sikap tersebut penting agar kekecewaan tidak berkembang menjadi kemarahan, kebencian, maupun dendam.

Hal tersebut disampaikan Ustazah Mumtazah Ketua Pimpinan Cabang Persatuan Islam Istri (Persistri) Bangil, dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Surabaya, Rabu, 9 September 2026, dengan tema “Mengatasi Kekecewaan kepada Manusia”. Ustazah Mumtazah mengatakan, kecewa merupakan perasaan yang sangat familiar dalam kehidupan manusia.

Seseorang dapat merasakan kecewa ketika sesuatu yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Menurutnya, secara harfiah kecewa dapat dimaknai sebagai rasa kecil hati atau tidak puas karena sesuatu yang diinginkan tidak terkabul. Kekecewaan semakin terasa ketika terdapat jarak yang jauh antara harapan dan kenyataan.

“Kecewa itu secara harfiah kita sudah sangat familiar dengan bahasa ini. Menurut KBBI, kecewa adalah kecil hati, tidak puas karena hal yang kita inginkan tidak terkabul,” ujar Ustazah Mumtazah.

Ia menjelaskan, persoalan bukan semata-mata terletak pada munculnya rasa kecewa, tetapi bagaimana seseorang memberikan respons terhadap perasaan tersebut. Kekecewaan yang berat dan tidak dikelola dengan baik dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang.

“Ketika kecewa, realitas jauh dari ekspektasi kita. Maka ketika kecewa dengan manusia, jika tidak disikapi dengan baik, kita akan merespons berlebih,” ujarnya.

Ustadzah Mumtazah menilai tidak semua orang mampu membawa rasa kecewa menuju kondisi yang tenang. Sebagian orang dapat mengendalikan diri dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai pembelajaran. Namun, sebagian lainnya justru merespons kekecewaan dengan kemarahan, perkataan kasar, bahkan menyimpan dendam.

Karena itu, menurutnya, Islam telah memberikan tuntunan bagaimana menghadapi orang lain yang menyebabkan kekecewaan. Salah satu pedoman tersebut terdapat dalam Surat Ali Imran ayat 159.

Dalam ayat tersebut, Allah SWT mengajarkan Nabi Muhammad SAW untuk bersikap lemah lembut. Allah juga memerintahkan untuk memaafkan, memohonkan ampun bagi orang lain, bermusyawarah, dan setelah membulatkan tekad, bertawakal kepada Allah SWT.

“Cara Allah menghadapi kekecewaan pertama adalah bersikap lemah lembut, tidak reaktif, mengontrol kecewa dan tidak marah,” katanya.

Menurut Ustadzah Mumtazah, sikap lemah lembut menjadi hal pertama yang perlu dilakukan ketika seseorang menghadapi kekecewaan. Reaksi spontan yang muncul karena emosi justru dapat membuat persoalan semakin besar.

Karena itu, seseorang perlu memberikan waktu kepada dirinya untuk menenangkan pikiran sebelum memberikan respons terhadap orang yang dianggap telah mengecewakannya. Langkah berikutnya adalah menjaga ucapan. Kekecewaan tidak boleh menjadi alasan untuk mengeluarkan perkataan kasar atau menyakiti orang lain.

“Jangan pernah mengeluarkan omongan kasar,” ucapnya tegas.

Setelah mampu mengendalikan emosi dan menjaga ucapan, Islam juga mengajarkan sikap memaafkan. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, tetapi menjadi bagian dari upaya menjaga hati agar tidak terus dipenuhi kemarahan dan kebencian.

Dalam Surat Ali Imran ayat 159, Allah SWT berfirman: “Karena rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS Ali Imran: 159).

Ustazah Mumtazah menambahkan, ayat tersebut juga mengajarkan agar seseorang tidak berhenti pada sikap memaafkan. Ketika menganggap orang lain melakukan kekeliruan, seorang muslim juga dianjurkan memohonkan ampun kepada Allah bagi mereka.

“Mintakan ampun buat mereka ketika kita menganggap mereka keliru atau didzalimi,” ujarnya.

Ia mengatakan, sikap tersebut dapat menjadi cara untuk menjaga hati agar tidak terjebak dalam keinginan membalas perlakuan buruk dengan keburukan. Selain itu, setelah melakukan ikhtiar dan berusaha mencari solusi, seorang muslim harus menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

“Setelah ikhtiar usaha mencari solusi, maka kita harus tawakal kepada Allah,” katanya.

Menurutnya, tawakal bukan berarti seseorang pasrah tanpa melakukan usaha. Seorang muslim tetap perlu mencari solusi, menyelesaikan persoalan dengan cara yang baik, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

Tuntunan untuk mengendalikan kemarahan juga terdapat dalam hadis Rasulullah SAW. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.

Hadis tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan mengendalikan emosi merupakan bagian penting dari kekuatan seorang muslim. Termasuk ketika menghadapi perlakuan orang lain yang tidak sesuai dengan harapan.

Ustadzah Mumtazah menekankan, menghadapi kekecewaan tidak berarti seseorang harus mengabaikan rasa sakit yang dirasakan. Perasaan kecewa merupakan bagian dari respons manusia terhadap suatu keadaan. Namun, perasaan tersebut harus diarahkan agar tidak melahirkan tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Ia mengajak umat Islam untuk tetap menjaga keikhlasan, berprasangka baik, memperbanyak kedekatan kepada Allah SWT, serta menghindari dendam. “Ketika kecewa, dalam hati kita tetap ikhlas, berprasangka baik, mendekatkan diri kepada Allah, tidak dendam kepada manusia,” tuturnya.

Ia mengingatkan, manusia memiliki keterbatasan. Tidak semua orang mampu memenuhi harapan yang kita berikan. Karena itu, terlalu menggantungkan kebahagiaan dan harapan kepada manusia dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami kekecewaan.

Sebaliknya, kekecewaan dapat dijadikan momentum untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. Ketika harapan kepada manusia tidak terpenuhi, seorang muslim tetap memiliki tempat untuk bersandar, yaitu Allah SWT.

Dengan melakukan ikhtiar, mencari solusi, menjaga perkataan, memaafkan, berprasangka baik, dan kemudian bertawakal, kekecewaan diharapkan tidak berubah menjadi dendam. Perasaan tersebut justru dapat menjadi sarana untuk belajar menerima kenyataan, memperkuat kesabaran, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....