Beberapa Syarat agar Amal Ibadah Kita Diterima Allah SWT

  • 07 Sep 2026 07:22 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Setiap manusia tentu mengharapkan amal ibadah yang dilakukan selama hidupnya mendapatkan penerimaan dan keridaan dari Allah SWT. Namun, dalam Islam, beribadah tidak hanya sekadar menjalankan suatu amalan, melainkan juga harus memperhatikan niat, tata cara, serta tujuan dari ibadah tersebut.

Hal tersebut disampaikan Ustadzah Dra. Hj. Haniah, Pimpinan Pesantren dan Panti Asuhan Mitra Arafah Surabaya, dalam program kajian Mutiara Pagi dengan tema Beberapa Syarat Agar Amal Ibadah Kita Diterima Allah SWT, Senin 7 September 2026. Menurut Ustadzah Haniah, tujuan utama manusia diciptakan oleh Allah SWT telah ditegaskan dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

"Ayat tersebut menjadi landasan bahwa kehidupan manusia pada hakikatnya memiliki tujuan utama, yaitu beribadah kepada Allah SWT. Ibadah tidak hanya dilakukan dalam bentuk ritual, tetapi juga tercermin dalam seluruh aktivitas kehidupan yang diniatkan untuk mencari rida Allah," ujar Ustadzah Hj.Haniah.

Dalam Islam, amal ibadah secara umum dapat dibedakan menjadi ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah merupakan ibadah yang tata cara, waktu, dan ketentuannya telah ditetapkan oleh syariat.

Contohnya adalah salat , puasa, zakat, dan ibadah haji. Dalam melaksanakannya, seorang Muslim harus mengikuti tuntunan yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Sementara itu, ibadah ghairu mahdhah, mencakup berbagai aktivitas kehidupan yang pada dasarnya mubah, tetapi dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat. Menolong sesama, bekerja mencari nafkah yang halal, mendidik anak, serta memberikan manfaat kepada masyarakat merupakan contoh aktivitas yang dapat bernilai ibadah.

Dengan demikian, kesempatan mendapatkan pahala sebenarnya sangat luas. Aktivitas sehari-hari pun dapat menjadi amal saleh apabila dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai dengan tuntunan agama.

Lebih lanjut Ustadzah Haniah juga menjelaskan, agar amal ibadah mendapatkan penerimaan dari Allah SWT, terdapat dua prinsip penting yang harus diperhatikan, yaitu ikhlas karena Allah SWT dan sesuai dengan tuntunan syariat. "Setiap amal harus dilakukan semata-mata karena Allah SWT. Seorang Muslim hendaknya tidak melakukan ibadah hanya untuk mendapatkan pujian, penghargaan, popularitas, atau pengakuan dari manusia. Amal yang secara lahiriah terlihat baik tetap perlu disertai niat yang benar,"ucapnya.

Karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk senantiasa memeriksa kembali niat sebelum, ketika, dan setelah melakukan suatu amal. Jangan sampai amal yang dilakukan justru tercampur dengan keinginan untuk mendapatkan penilaian manusia.

Yang Kedua, kata ustadzah Haniah yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. "Amal ibadah harus dilakukan dengan cara yang dibenarkan oleh syariat. Niat yang baik saja belum cukup apabila pelaksanaan ibadah tidak sesuai dengan tuntunan agama," kata Ustadzah Haniah.

Prinsip tersebut sejalan dengan ajaran Islam bahwa amal yang diterima bukan hanya amal yang tampak baik, tetapi amal yang dilakukan dengan keikhlasan dan mengikuti petunjuk Allah serta Rasul-Nya. Selain memperhatikan niat dan tata cara, seorang Muslim juga perlu menjaga amal yang telah dilakukan.

Jangan sampai kebaikan yang sudah dikerjakan kemudian dirusak oleh sikap sombong, riya, menyakiti orang lain, atau merasa diri lebih baik daripada orang lain. "Amal ibadah seharusnya justru membuat seseorang semakin rendah hati, semakin dekat kepada Allah SWT, serta semakin peduli kepada sesama," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....