Hari Aksara, Literasi Tak Sekadar Membaca
- 08 Sep 2026 16:02 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Peringatan Hari Aksara Internasional menjadi momentum untuk melihat kembali makna literasi di tengah derasnya arus informasi digital. Kemampuan membaca dan menulis dinilai belum cukup, karena masyarakat juga dituntut mampu memahami, mengevaluasi, serta memverifikasi informasi yang diterima.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Puji Retno Hardiningtyas, mengatakan literasi kritis menjadi kemampuan penting yang perlu dimiliki seluruh masyarakat. Terlebih, perkembangan teknologi menghadirkan tantangan berupa derasnya konten berbasis kecerdasan artifisial atau AI, algoritma media sosial, hingga polarisasi informasi.
“Literasi kritis itu menjadi poin penting untuk dimiliki oleh seluruh masyarakat. Ini menjadi tanggung jawab kolektif di tengah banjirnya informasi di era digitalisasi,” kata Retno dalam Dialog Aspirasi Pro1 RRI Surabaya, Selasa, 8 September 2026.
Menurut Retno, pemahaman mengenai literasi selama ini masih kerap terbatas pada kemampuan membaca dan menulis. Padahal, literasi juga berkaitan dengan kemampuan memahami makna dari informasi yang dibaca, kemudian mengevaluasi dan memeriksa kebenarannya.
Ia menilai, kemampuan mengenali huruf dan kata harus dilanjutkan dengan kemampuan memahami pesan yang terkandung di dalamnya. Masyarakat juga perlu membandingkan informasi dan melengkapi pengetahuan dari sumber yang dapat dipercaya.
“Bisa membaca belum tentu paham. Di tengah arus informasi yang begitu deras, masyarakat dituntut untuk mengenal kata atau huruf, memaknai arti kata, melakukan evaluasi, dan melengkapi kebenarannya,” ujarnya.
Penguatan literasi kritis tersebut menjadi penting karena persoalan literasi tidak hanya terjadi pada masyarakat yang masih mengalami buta aksara. UNESCO mencatat, pada 2024 terdapat sedikitnya 739 juta remaja dan orang dewasa di dunia yang belum memiliki keterampilan literasi dasar. UNESCO juga menyebut empat dari sepuluh anak di dunia belum mencapai tingkat kecakapan minimum dalam membaca.
Di Indonesia, angka buta aksara penduduk usia 15 hingga 59 tahun menunjukkan tren penurunan. Data Susenas BPS yang dikutip Kemendikdasmen mencatat angka buta aksara turun dari 1,71 persen pada 2020 menjadi 0,92 persen pada 2024.
Retno mengatakan, capaian penurunan angka buta aksara perlu diikuti dengan peningkatan kualitas literasi. Sebab, masyarakat yang mampu membaca belum tentu memiliki kemampuan untuk memahami informasi secara utuh dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar.
Upaya tersebut, lanjutnya, juga telah dilakukan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Pada 2025, BBP Jatim memberikan peningkatan kompetensi membaca kritis dan analitis kepada 288 siswa dan 24 guru pendamping dari 24 sekolah di Kabupaten Probolinggo yang tingkat literasinya berkategori rendah.
Program tersebut diarahkan untuk membangun kemampuan siswa dalam memahami, mencerna, melakukan penalaran, serta menganalisis teks secara kritis dan analitis. Dari 288 siswa peserta program, 219 siswa atau 72,92 persen mengalami peningkatan nilai literasi membaca.
Retno menegaskan, penguatan literasi masyarakat tidak dapat dilakukan oleh pemerintah secara sendiri. Kehadiran negara melalui program-program literasi perlu dioptimalkan dan berjalan bersama dengan keterlibatan masyarakat.
“Upaya meningkatkan literasi tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Pemerintah harus hadir melalui program-program yang dioptimalkan, tetapi masyarakat juga harus terlibat. Termasuk media dan akademisi, semuanya mempunyai peran dalam menumbuhkan literasi masyarakat,” katanya.
Menurutnya, media memiliki peran penting dalam menghadirkan informasi yang berkualitas dan membantu masyarakat memahami persoalan secara utuh. Sementara akademisi dapat memperkuat literasi melalui pengetahuan dan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian, tantangan literasi di era digital tidak lagi sebatas memastikan masyarakat bisa membaca, tetapi juga mampu memahami, berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, dan menggunakannya secara tepat. Kolaborasi pemerintah, masyarakat, media, akademisi, keluarga, dan komunitas menjadi bagian penting untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi derasnya arus informasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....