Hadapi Banjir Informasi dengan SIFT
- 09 Sep 2026 09:51 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Derasnya arus informasi di ruang digital membuat masyarakat tidak cukup hanya mampu mengakses informasi. Kemampuan menganalisis, memahami, dan memeriksa kebenaran informasi juga diperlukan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang keliru. Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah metode SIFT.
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UINSA, Moch. Dimas Maulana, menjelaskan SIFT sebagai metode sederhana untuk membantu masyarakat menyikapi informasi secara lebih kritis. SIFT merupakan singkatan dari Stop atau berhenti sejenak sebelum mempercayai informasi, Investigate the Source atau menyelidiki sumber informasi, Find Better Coverage atau mencari informasi pembanding yang lebih kredibel, dan Trace atau menelusuri kembali klaim hingga ke sumber aslinya.
“Di tengah tsunami informasi, masyarakat itu tidak hanya sekadar bisa mengakses informasi, tetapi juga harus bisa menganalisis dan memahami. Karena ini tentu sangat berpengaruh terhadap sikap, perilaku, dan juga pola pikir,” kata Dimas dalam Dialog Aspirasi RRI Surabaya, Selasa, 8 September 2026.
Menurut Dimas, kemampuan tersebut semakin penting karena informasi yang diterima masyarakat di ruang digital turut dipengaruhi oleh algoritma. Kondisi ini dapat membuat seseorang lebih sering mendapatkan informasi yang sesuai dengan apa yang sebelumnya dilihat, disukai, atau diyakininya.
“Karena apa yang kita tonton itu terpengaruh oleh algoritma. Ada filter bubble, ada juga echo chamber. Akhirnya masyarakat akan meyakini apa yang dilihatnya itu benar, padahal belum tentu apa yang dilihat sesuai dengan fakta-fakta yang ada,” ujarnya.
Dalam penerapannya, Stop menjadi langkah pertama. Masyarakat perlu berhenti sejenak sebelum mempercayai ataupun membagikan informasi, terutama jika informasi tersebut memunculkan emosi kuat atau terlihat sangat meyakinkan.
Berikutnya, Investigate the Source, yakni memeriksa sumber informasi. Pengguna perlu mengetahui siapa yang membuat atau pertama kali menyebarkan informasi serta melihat kredibilitas sumber tersebut. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan mencari informasi mengenai sumber dari laman atau sumber lain, bukan hanya mengandalkan informasi yang tercantum pada halaman awal.
Langkah ketiga, Find Better Coverage, dilakukan dengan mencari informasi pembanding dari sumber lain yang lebih kredibel dan independen. Dengan cara ini, masyarakat dapat melihat apakah sebuah klaim hanya muncul dari satu sumber atau memiliki dukungan dari sumber terpercaya lainnya.
Sementara Trace berarti menelusuri kembali klaim, kutipan, foto, maupun video hingga menemukan sumber dan konteks aslinya. Langkah ini penting untuk memastikan informasi tidak dipotong dari konteks atau menggunakan materi lama yang kemudian disebarkan seolah-olah merupakan peristiwa baru.
Penerapan SIFT, menurut Dimas, menjadi bagian dari kemampuan literasi di tengah perubahan pola masyarakat dalam menerima informasi. Masyarakat tidak cukup hanya menjadi pengguna yang mampu menemukan dan membaca informasi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk mempertanyakan dan memeriksa informasi tersebut.
Dengan membiasakan berhenti, memeriksa sumber, mencari pembanding, dan menelusuri informasi hingga ke sumber aslinya, masyarakat dapat lebih cermat menentukan informasi yang layak dipercaya maupun dibagikan. Dengan demikian, kemampuan literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi berlanjut pada kemampuan memahami dan berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....