Literasi Kritis Jadi Benteng Hadapi Banjir Informasi
- 07 Sep 2026 12:00 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Sidoarjo - Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan membaca saja dinilai tidak cukup. Masyarakat perlu memiliki literasi kritis agar mampu memilah, memeriksa, dan menilai kebenaran informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Pegiat Literasi Wibowo Purnomohadi mengatakan, masyarakat harus lebih selektif menghadapi informasi yang beredar, terutama yang belum terverifikasi kebenarannya. Menurut dia, derasnya informasi di ruang digital membuat masyarakat semakin sulit membedakan informasi yang benar dan keliru.
“Hari ini ibarat hutan informasi. Informasi berseliweran dan tidak mudah mendeteksi mana yang benar dan mana yang salah,” ujar Wibowo, Senin, 7 September 2026.
Wibowo menilai, budaya membaca dan berdiskusi secara kritis di tengah masyarakat masih perlu diperkuat. Interaksi dan dialog tatap muka dinilai penting agar masyarakat tidak mudah terprovokasi ketika menerima informasi yang belum jelas sumber maupun kebenarannya.
“Kita perlu menahan diri untuk tidak langsung membagikan informasi. Lihat, timbang, dan putuskan terlebih dahulu apakah informasi itu perlu disampaikan kepada masyarakat lain atau tidak,” katanya.
Menurut Wibowo, penguatan budaya kritis harus dilakukan secara konsisten. Dan perlu melibatkan para pegiat literasi dan komunitas membaca.
"Upaya tersebut dinilai penting untuk membangun kemampuan masyarakat menjadi lebih kritis sekaligus mencegah dampak buruk penyebaran informasi yang tidak terverifikasi," katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....