Salat Sebagai Barometer Kehidupan: Hubungan Salat, Rezeki, Mencegah Kemungkaran

  • 09 Agt 2026 05:53 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya— Salat lima waktu bukan sekadar kewajiban ritual formalitas dalam Islam, melainkan sebuah instrumen spiritual utama yang berfungsi sebagai barometer kualitas hidup seorang muslim. Hal tersebut ditegaskan oleh Ustazah Mihmidaty Afif dalam program kajian kitab Mukhtarul Ahaditsin Nabawiyah yang disiarkan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya.

Dalam pemaparannya, perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur sekaligus pengurus Muslimat NU Jawa Timur ini menyoroti betapa krusialnya menjaga kesempurnaan salat demi memperoleh kedekatan dengan Allah SWT serta keberkahan hidup di dunia dan akhirat. Dalam kesempatan kajian tersebut, Ustadzah Mihmidaty mengutip hadis Nabi Muhammad SAW ke-1241 yang menegaskan konsekuensi serius bagi seseorang yang salatnya tidak mampu membentengi diri dari perbuatan buruk.

Beliau menjelaskan bahwa barangsiapa yang salatnya tidak mencegah dari perbuatan keji (fahsya') dan mungkar, maka salat tersebut tidak memberikan dampak positif apa pun bagi pelakunya, melainkan justru hanya akan menambah jarak yang semakin jauh dari rahmat dan ridha Allah SWT. Landasan utama pentingnya peran salat dalam membentengi moral ini juga termaktub dalam Al-Qur'an Surat Al-'Ankabut ayat 45.

Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa salat yang didirikan dengan benar secara konsisten akan mencegah pelakunya dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Di samping itu, mengingat Allah melalui salat merupakan keutamaan terbesar dibandingkan ibadah-ibadah lainnya, dan Allah Maha Mengetahui atas setiap perbuatan yang dilakukan oleh hamba-Nya.

Lebih lanjut, pengasuh Pondok Pesantren Nur El-Faizah Surabaya ini menerangkan bahwa indikator utama salat yang berkualitas dapat diukur dari tiga komponen inti, yaitu ketepatan waktu dalam melaksanakannya, kontinuitas tanpa ada yang ditinggalkan, serta tingkat kekhusyukan. Salat yang dikerjakan secara tergesa-gesa atau sekadar menggugurkan kewajiban diyakini tidak akan membawa pengaruh transformatif terhadap akhlak sehari-hari, sehingga seseorang yang rajin salat namun masih gemar mencela atau bermaksiat menjadi bukti nyata bahwa ibadah salatnya belum sempurna.

Ustazah Mihmidaty juga mengaitkan erat hubungan antara kedisiplinan melaksanakan salat dengan kelancaran rezeki, merujuk pada firman Allah dalam Surat Thaha ayat 132. Beliau menekankan bahwa Allah melimpahkan jaminan rezeki bagi hamba-Nya yang mendirikan salat dan bersabar dalam membina keluarganya untuk beribadah.

Oleh karena itu, jika seseorang merasa rezekinya selalu seret dan penuh kesulitan meskipun telah salat, maka yang perlu dievaluasi dan diperbaiki pertama kali adalah kualitas serta kelengkapan ibadah salatnya. Sebagai solusi praktis dalam meningkatkan kualitas ibadah dan mengetuk pintu pertolongan Allah, beliau mempopulerkan konsep "Salat Tujuh Waktu". Konsep ini melengkapi lima salat fardu (Zuhur, Asar, Magrib, Isya, Subuh) dengan dua salat sunah muakkad yang sangat dianjurkan, yaitu salat Tahajud di sepertiga malam dan salat Dhuha di pagi hari.

Dalam filosofi Jawa, angka tujuh (pitu) melambangkan pitulungan atau pertolongan Allah yang akan senantiasa menyertai hamba-Nya yang konsisten menjaga ketujuh waktu salat tersebut. Menanggapi fenomena masyarakat yang sering mengabaikan salat demi alasan kesibukan kerja atau mencari nafkah untuk keluarga, ustazah Mihmidaty memberikan peringatan keras.

Ia mengibaratkan orang yang meninggalkan salat demi mengejar urusan duniawi seperti ungkapan 'buru uceng kelangan delek'—mengejar hal kecil yang fana namun justru kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar dan abadi. Menurutnya, tidak ada alasan pekerjaan atau kepentingan dunia apa pun yang dapat membenarkan seseorang meninggalkan salat, karena keselamatan akhirat harus selalu menjadi prioritas utama di atas segalanya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....