Meneladani Rasulullah SAW dalam Menghadapi Ujian Kehidupan

  • 27 Agt 2026 07:06 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk kembali meneladani kehidupan Rasulullah SAW, termasuk dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan dengan keimanan, kesabaran dan ketenangan.

Ustazah Rachma Ayuningtyas atau yang akrab disapa Ustazah Yuyun Ketua Departemen Humas PW Salimah Jatim, mengatakan, kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup hanya diungkapkan melalui ucapan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku dan amalan sehari-hari.

“Masih dalam momentum Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam kajian sebelumnya kita sudah membahas pentingnya mencintai Rasulullah dan mewujudkannya dalam amalan nyata, bukan sekadar ucapan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika menjalani ujian hidup,” ujar Ustazah Yuyun dalam tausiyahnya di Mutiara Pagi Pro 1 RRI Surabaya, Kamis, 27 Agustus 2026.

Menurutnya, kehidupan Rasulullah SAW juga tidak lepas dari berbagai ujian. Sejak kecil, Rasulullah SAW telah menjadi yatim. Setelah menerima wahyu dan menjalankan tugas sebagai Rasul, berbagai ujian kembali datang, mulai dari penolakan masyarakat hingga kehilangan orang-orang yang beliau cintai.

“Kalau kita berkaca pada ujian yang dihadapi Rasulullah, beliau dilahirkan dalam keadaan yatim, kemudian diasuh oleh kakeknya. Ketika menjadi Rasul juga menghadapi ujian bertubi-tubi. Abu Thalib wafat, beliau mendapatkan penolakan dari masyarakat, kemudian Khadijah juga wafat. Itu semua merupakan ujian yang sangat berat,” ujarnya.

Ustazah Yuyun menegaskan, meskipun Rasulullah SAW merupakan utusan Allah, beliau tetap seorang manusia yang merasakan kesedihan dan menghadapi tekanan dalam kehidupan. “Pandangan kita mungkin karena beliau adalah Rasul, sehingga akan mudah menghadapi ujian. Tetapi perlu kita ingat, beliau adalah manusia yang juga sama seperti kita. Bahkan dengan ujian-ujian yang dialami Rasulullah inilah Allah ingin menjadikan beliau sebagai teladan bagi kita,” katanya.

Ia menjelaskan, tekanan atau stres pada dasarnya merupakan respons alami tubuh ketika seseorang menghadapi situasi yang dianggap menantang atau mengancam. “Stres itu sebenarnya merupakan respons alami tubuh. Sesuatu yang diberikan Allah kepada manusia untuk menghadapi sesuatu yang menantang. Ini merupakan respons tubuh untuk mempertahankan keberlangsungan hidup manusia,” katanya.

Menurutnya, ketika menghadapi tekanan, tubuh dapat memberikan respons fisiologis, di antaranya melalui peningkatan hormon adrenalin dan kortisol. Respons tersebut membuat tubuh lebih waspada dan siap menghadapi situasi yang dianggap mengancam.

Ia menyebut, kondisi yang dapat memicu stres antara lain ketika seseorang menghadapi situasi yang dianggap mengancam, ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, serta ketika merasa dikejar berbagai tuntutan, baik pekerjaan, keluarga maupun persoalan kehidupan lainnya.

Lantas, bagaimana umat Islam dapat meneladani Rasulullah SAW dalam menghadapi tekanan dan ujian kehidupan? Ustazah Yuyun menyebut, langkah pertama adalah memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan memperbanyak zikir, doa dan membaca Al-Qur'an.

“Yang pertama adalah dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Kita mengingat Allah dengan berdzikir, berdoa kepada Allah, membaca Al-Qur'an. Dengan mengingat Allah, kita bisa menjadi lebih tenang untuk kemudian berpikir jernih dan mencari solusi,” ucapnya.

Hal tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surat Ar-Ra'd ayat 28 yang menyebutkan bahwa hati orang-orang beriman menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Langkah kedua adalah berdoa ketika menghadapi kesulitan. Ustazah Yuyun mengutip hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim tentang doa yang dibaca Rasulullah SAW ketika menghadapi kesulitan.

“Yang kedua adalah doa. Dalam hadis Ibnu Abbas disebutkan ketika mengalami kesulitan, Rasulullah mengucapkan, ‘La ilaha illallah rabbul ‘arsyil ‘azhim, la ilaha illallah rabbus samawati wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil karim’,” tuturnya.

Menurutnya, doa ketika menghadapi tekanan tidak harus selalu panjang. Mengingat dan memuji kebesaran Allah juga dapat menjadi bentuk berserah diri kepada-Nya. “Dalam kondisi stres, bukan permintaan yang muluk-muluk dalam berdoa. Terkadang kita hanya menyebut nama Allah dengan pujian terhadap keagungan dan keesaan-Nya. Itu sudah menjadi bentuk kita mengingat bahwa ada Allah yang Maha Besar dan kita bersandar kepada-Nya,” katanya.

Selanjutnya, seseorang perlu menenangkan diri sebelum mengambil keputusan agar persoalan dapat dilihat secara lebih jernih. “Yang ketiga, kita berusaha mencoba menempatkan duduk masalahnya dengan hati yang dingin, jujur dan lapang dada. Jangan ketika sedang emosi kemudian mengambil keputusan. Kita tenangkan diri terlebih dahulu, kita lihat persoalannya dengan jernih,” ujarnya.

Setelah mampu melihat persoalan dengan lebih tenang, langkah berikutnya adalah melakukan ikhtiar untuk mencari solusi dan tetap bersabar dalam menjalani prosesnya. “Yang keempat adalah mencari solusi dan bersabar. Jadi sabar itu bukan berarti kita pasrah tanpa melakukan apa-apa. Kita tetap berusaha mencari solusi, tetapi prosesnya kita jalani dengan kesabaran dan tetap bersandar kepada Allah,” ucapnya.

Pesan tersebut sejalan dengan Surat Al-Baqarah ayat 153 yang mengajarkan umat Islam untuk memohon pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Ustazah Yuyun menambahkan, ujian kehidupan tidak selalu harus dipandang sebagai hukuman. Ujian dapat menjadi sarana untuk belajar, memperkuat keimanan dan membentuk ketangguhan dalam menghadapi persoalan.

“Ketika kita mendapatkan ujian, jangan langsung berpikir bahwa Allah sedang menghukum kita. Bisa jadi Allah sedang mengajarkan sesuatu kepada kita. Rasulullah juga mengalami berbagai ujian, tetapi beliau tetap tenang, tetap berusaha dan tetap bersandar kepada Allah,” katanya.

Karena itu, momentum Maulid Nabi Muhammad SAW diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi kesempatan untuk menerapkan keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. “Kalau kita mengatakan mencintai Rasulullah, mari kita buktikan dengan meneladani beliau. Ketika mendapatkan ujian, bagaimana kita bersikap? Apakah kita langsung menyerah, atau kita belajar untuk mengingat Allah, berdoa, berpikir jernih, mencari solusi dan bersabar. Di situlah kecintaan kepada Rasulullah bisa kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari,” ucap Ustazah Yuyun.

Melalui keteladanan Rasulullah SAW, umat Islam diharapkan mampu menghadapi berbagai ujian kehidupan dengan tetap menjaga keimanan, memperbanyak doa dan zikir, berpikir jernih, berikhtiar mencari solusi serta bersabar dalam menjalani setiap proses kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....