Strategi Media Sosial Pariwisata Jawa Timur untuk Menaikkan Length of Stay
- 24 Agt 2026 13:59 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Maraknya destinasi wisata di Jawa Timur yang viral melalui Instagram dan TikTok menjadi peluang besar bagi pertumbuhan pariwisata daerah. Namun, popularitas di media sosial belum otomatis berbanding lurus dengan meningkatnya lama tinggal wisatawan (length of stay).
Tidak sedikit destinasi yang ramai karena menawarkan lanskap yang menarik untuk difoto, kemudian dibagikan di media sosial. Wisatawan datang, mengambil gambar, menikmati suasana dalam waktu singkat, lalu kembali pulang. Pola tersebut menunjukkan bahwa strategi promosi pariwisata masih banyak bertumpu pada short tourism—perjalanan singkat yang berorientasi pada kunjungan dan dokumentasi, bukan pengalaman wisata yang lebih panjang.
Padahal, Jawa Timur memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan menjadi rangkaian perjalanan wisata. Keindahan alam, kekayaan budaya, kuliner, sejarah, ekonomi kreatif hingga kehidupan masyarakat lokal dapat dikemas menjadi pengalaman yang membuat wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama.
Staf pengajar Program Studi Manajemen Pemasaran Digital Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Edwin Fiatiano, menilai persoalan tersebut perlu dilihat lebih jauh daripada sekadar seberapa viral sebuah destinasi di media sosial. Dalam perbincangannya bersama RRI Surabaya, Senin 24 Agustus 2026, Edwin mengatakan bahwa pembahasan mengenai pengembangan pariwisata dan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan sebenarnya telah beberapa kali dilakukan.
Namun, hingga kini belum ditemukan formula yang benar-benar mampu mendorong perubahan signifikan dalam strategi pengembangan pariwisata Jawa Timur. "Salah satu persoalan penting terletak pada bagaimana kebijakan pariwisata dirumuskan dan siapa yang berada di balik pengambilan keputusan tersebut. Orang-orang yang terlibat dalam penentuan arah kebijakan pariwisata perlu memiliki pemahaman yang memadai mengenai karakter industri pariwisata, perilaku wisatawan, pemasaran, hingga kebutuhan sumber daya manusia. Banyak strategi yang harus diwujudkan,” ujar Edwin.
Dalam hal ini strategi yang bisa dikembangkan adalah paket perjalanan wisata. Destinasi tidak cukup hanya dipromosikan sebagai satu titik kunjungan, melainkan perlu dirangkai menjadi pengalaman yang saling terhubung.
Konsep tersebut dapat mengubah cara wisatawan melihat sebuah destinasi. Jika sebelumnya sebuah kawasan hanya diposisikan sebagai tempat untuk berfoto, maka kawasan tersebut dapat dikembangkan menjadi tujuan yang menawarkan pengalaman selama satu hari, dua hari, bahkan lebih.
Edwin mencontohkan sejumlah destinasi di luar Jawa dapat menjadi gambaran bagaimana sebuah kawasan wisata tidak hanya menjual pemandangan, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang membuat wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama.
Bali, misalnya, tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya. Kekayaan budaya dan pertunjukan seni menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada wisatawan. Tari Kecak menjadi salah satu contoh bagaimana pertunjukan budaya dapat menjadi atraksi yang memiliki daya tarik tersendiri. Wisatawan tidak sekadar datang untuk melihat tempat, tetapi juga menyesuaikan waktu perjalanan agar dapat menyaksikan pertunjukan secara langsung.
Hal serupa dapat dilihat pada pengembangan wisata di Nusa Tenggara Barat dan kawasan sekitarnya, termasuk pengalaman wisata yang ditawarkan dalam perjalanan menuju Pulau Komodo. Wisatawan tidak hanya mengejar satu titik destinasi, tetapi dapat memperoleh rangkaian pengalaman seperti eksplorasi alam, perjalanan laut, interaksi dengan lingkungan, serta aktivitas lain yang menjadikan perjalanan memiliki durasi lebih panjang.
Pelajaran penting dari berbagai destinasi tersebut adalah pengalaman dapat menjadi alasan wisatawan untuk mengatur waktu kunjungan mereka.
Konsep semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang mustahil diterapkan di Jawa Timur. Daerah ini memiliki kekayaan budaya dan sejarah yang sangat besar, termasuk warisan Kerajaan Majapahit yang dapat dikembangkan menjadi produk wisata berbasis pengalaman. Mojokerto, misalnya, memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui narasi sejarah Majapahit. Selama ini, peninggalan sejarah dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan, tetapi potensinya masih bisa dikembangkan lebih jauh dengan menghadirkan pengalaman yang membuat wisatawan tidak sekadar datang, melihat, berfoto, lalu pulang.
Salah satu gagasan yang dapat dipertimbangkan adalah menghadirkan pertunjukan budaya atau drama kolosal mengenai perjalanan Majapahit secara berkala. "Pertunjukan tersebut dapat dikemas secara modern, atraktif, dan tetap berpijak pada narasi sejarah. Wisatawan yang ingin menyaksikannya harus datang pada waktu tertentu. Kondisi tersebut justru dapat menciptakan travel motivation baru. Wisatawan tidak lagi berpikir, “Saya ingin datang ke Mojokerto untuk melihat peninggalan Majapahit,” tetapi berkembang menjadi, “Saya harus menginap di Mojokerto karena ada pertunjukan Majapahit yang hanya berlangsung pada waktu tertentu," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....