Pakar Kebencanaan ITS: Kaskade Gempa Bisa Lebih Mematikan

  • 22 Agt 2026 21:34 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Gempa bumi dapat memicu rangkaian bencana yang saling terhubung atau dikenal sebagai kaskade bencana gempa. Pakar Kebencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr. Amien Widodo, mengatakan dampak lanjutan gempa dapat lebih mematikan dibandingkan guncangan awal.

“Kaskade bencana gempa melalui kaskade geologi, dari alam ke alam, seperti gempa memicu tsunami, likuifaksi, longsor dan pergeseran tanah,” kata Amien. Sabtu, 22 Agustus 2026. Menurutnya, kaskade juga terjadi ketika bencana alam merusak infrastruktur dan jaringan utilitas hingga memicu kegagalan sistemik.

Dampak tersebut kemudian dapat berkembang menjadi krisis sosial, ekonomi dan kesehatan selama berminggu-minggu hingga bertahun-tahun. “Misalnya krisis pengungsi, masyarakat terisolasi, pengalihan dana pembangunan untuk penanganan bencana, hingga kerugian ekonomi,” ujarnya.

Amien menyebut berbagai bencana gempa di Indonesia menunjukkan bahwa gempa jarang berdampak sebagai kejadian tunggal. Gempa Aceh, misalnya, diikuti tsunami dan kerusakan infrastruktur secara luas yang menyebabkan korban jiwa sangat besar.

Kondisi serupa terlihat pada sejumlah gempa di Nias, Yogyakarta, Padang, Lombok dan Sulawesi Tengah. “Gempa di Sulawesi Tengah diikuti pergeseran tanah, tsunami, likuifaksi dan longsor,” katanya.

Menurut Amien, kaskade serupa kembali terjadi pada gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) 15 Agustus 2026. Gempa tersebut diikuti tsunami, longsor, korban jiwa, korban luka, trauma, pengungsian dan masyarakat yang terisolasi.

Berdasarkan data BNPB, tercatat 202 orang menjadi korban, dengan 75 orang meninggal dan 132 orang mengalami luka. BNPB juga mencatat 40.040 jiwa mengungsi serta 11.925 rumah mengalami kerusakan akibat gempa tersebut.

Amien menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya perubahan cara pandang dalam memahami dinamika risiko bencana. “Kita harus beralih dari pemahaman efek domino sederhana menuju pemahaman kaskade bencana yang kompleks,” ujarnya.

Ia menjelaskan, efek domino bergerak searah, sedangkan kaskade bencana dapat memperkuat risiko melalui kegagalan berbagai sistem secara bersamaan. Menurutnya, risiko muncul dari interaksi antara kekuatan geologi, kegagalan infrastruktur dan kerentanan sosial ekonomi.

Konsep amplifikasi risiko menunjukkan bahwa dampak bencana tidak sekadar bertambah, tetapi dapat berlipat ganda. “Risiko bukan sekadar bertambah, seperti satu ditambah satu sama dengan dua, tetapi bisa berlipat menjadi lima,” katanya.

Amien menilai standar perencanaan wilayah dan bangunan masih sering terjebak pada pendekatan satu jenis bahaya. Ketahanan bangunan terhadap guncangan gempa, menurutnya, belum cukup jika mengabaikan likuifaksi, tsunami, longsor atau banjir pascagempa.

“Pengabaian terhadap variabel multi-bahaya merupakan bentuk nyata dari kerentanan terencana,” ucapnya. Karena itu, pemerintah perlu mengubah paradigma perencanaan wilayah dari pendekatan linier menjadi pendekatan sistemik dan multi-bahaya.

Keberhasilan mitigasi tidak cukup diukur dari bangunan yang tetap berdiri setelah gempa. “Resiliensi harus diukur dari kemampuan sistem kota mempertahankan fungsi vitalnya di tengah rangkaian kegagalan,” ujarnya.

Amien menekankan, kesadaran terhadap kaskade bencana harus menjadi bagian penting dalam kebijakan pembangunan infrastruktur dan tata ruang. Ia menyebut investasi mitigasi tidak harus dimulai dari nol karena berbagai daerah memiliki kearifan lokal menghadapi bencana.

Beberapa di antaranya Rumah Gadang, Rumoh Aceh, Omo Hada, Rumah Sade Adat Sasak dan Tongkonan. Masyarakat Simeulue juga memiliki kearifan lokal semong sebagai sistem peringatan dini menghadapi tsunami.

“Teriakan SMONG berarti air laut surut dan masyarakat harus segera lari menjauh dari pantai menuju bukit,” katanya. Kearifan tersebut terbukti membantu masyarakat Simeulue menyelamatkan diri saat tsunami 26 Desember 2004.

Menurut Amien, pengalaman lokal tersebut perlu ditelusuri dan dikembangkan sebagai modal membangun resiliensi multi-bahaya. “Antisipasi satu-satunya jalan menuju ketangguhan,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....