Akademisi ITS Kembangkan Teknologi Mitigasi Gempa

  • 22 Agt 2026 08:44 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Risiko gempa bumi di Indonesia mendorong penguatan teknologi mitigasi bencana oleh akademisi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Wakil Kepala Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS, Dr. Berlian Al Kindhi mengembangkan sensor gempa dan prototipe bangunan tahan gempa.

“Pengembangan tersebut menjadi kontribusi nyata ITS dalam menjawab tantangan mitigasi bencana Indonesia,” ujar Berlian, Jumat, 21 Agustus 2026. Menurutnya, Indonesia memiliki tingkat kerawanan gempa yang cukup tinggi sehingga membutuhkan teknologi mitigasi.

Alat pendeteksi gempa tersebut menggunakan mikrokontroler untuk mendeteksi getaran tanah secara real-time. Ketika getaran melampaui ambang tertentu, sistem otomatis mengirimkan notifikasi dan mengaktifkan alarm peringatan.

Informasi geolokasi dan data historis juga ditampilkan melalui situs pemantauan insamo.id. Sensor tersebut dikembangkan sebagai ekosistem mitigasi kebencanaan berbasis digital yang terintegrasi aplikasi pemantauan.

Data sensor dapat digunakan untuk memetakan potensi bencana di lingkungan sekitar. Selain gempa, aplikasi tersebut juga dapat memantau ketinggian air untuk mitigasi banjir dan longsor.

Keunggulan lainnya terletak pada biaya produksi sensor yang lebih rendah dibandingkan produk sejenis. “Sensor ini berbiaya rendah sehingga dapat dikembangkan dan diaplikasikan di berbagai rumah penduduk,” ucap Berlian.

Sementara itu, dosen Teknik Sipil ITS Ahmad Basshofi Habieb bersama tim mengembangkan prototipe bangunan tahan gempa. Menurut Basshofi, banyak korban dan kerusakan gempa terjadi pada lingkungan hunian masyarakat.

“Prototipe ini diharapkan menjadi solusi untuk membangun rumah dan pemukiman lebih aman,” ujarnya. Prototipe tersebut dibangun dua lantai untuk menyesuaikan karakter hunian masyarakat.

Bangunan menggunakan base isolator yang memisahkan gerakan tanah dari struktur bangunan. Teknologi tersebut membuat bangunan bergerak secara terkontrol ketika menerima guncangan gempa.

Bangunan juga menggunakan dinding hebel lebih tebal dengan struktur atas tanpa rangka beton bertulang. Konsep tersebut dirancang untuk meningkatkan keamanan sekaligus menjaga efisiensi biaya pembangunan.

Basshofi berharap penelitian tersebut dapat dikembangkan bersama lembaga lain untuk memperluas penerapannya. Terutama, teknologi tersebut diharapkan dapat diterapkan pada wilayah yang memiliki risiko gempa tinggi.

“Saya berharap hasil penelitian ini segera diimplementasikan agar dampak gempa dapat diminimalkan,” ujarnya. ITS menilai inovasi tersebut menjadi langkah strategis membangun masyarakat tangguh dan lingkungan hunian aman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....