Kesiapsiagaan Bencana Perlu Jadi Budaya
- 09 Sep 2026 20:53 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Kesiapsiagaan menghadapi bencana dinilai tidak cukup dibangun ketika bencana sudah terjadi. Kesadaran untuk mengenali risiko, memahami tanda-tanda bencana, dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan perlu ditanamkan terus-menerus hingga menjadi budaya di tengah masyarakat.
Anggota Dewan Energi Nasional sekaligus Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) periode 2006–2013, Surono mengatakan, pengalaman selama memimpin PVMBG menunjukkan pendekatan kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam mitigasi bencana.
Menurut Surono, edukasi kebencanaan tidak selalu harus disampaikan dengan bahasa teknis. Kesadaran masyarakat justru dapat dibangun melalui komunikasi yang sederhana, dekat, dan humanis, sehingga masyarakat lebih mudah memahami karakter lingkungan dan potensi bencana di sekitarnya.
“Kita harus ngobrol dengan masyarakat, dengan cara yang sederhana, bagaimana menggugah kesadaran mereka, sehingga masyarakat tahu karakter atau tanda-tanda ketika terjadi bencana,” ujar Surono dalam Dialog Aspirasi Pro1 RRI Surabaya, Rabu 9 September 2026.
| Baca juga: BMKG Dorong Literasi Masyarakat Hadapi Gempa |
Pemahaman tersebut, lanjutnya, penting terutama bagi masyarakat yang hidup di wilayah dengan potensi bencana geologi. Indonesia berada pada kawasan pertemuan lempeng tektonik dan jalur gunung api, sehingga risiko bencana geologi menjadi bagian dari kondisi geografis Indonesia.
Badan Geologi mencatat terdapat 127 gunung api aktif di Indonesia. Gunung-gunung api tersebut tersebar dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Maluku Utara hingga Sulawesi Utara.
Karena itu, menurut Surono, masyarakat perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai lingkungan tempat tinggalnya, termasuk mengenali perubahan atau tanda-tanda yang berkaitan dengan potensi bencana. Pengetahuan tersebut akan membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat ketika mendapatkan peringatan.
Surono menilai kesiapsiagaan tidak boleh hanya dipahami sebagai respons ketika sirene berbunyi atau ketika bencana sudah di depan mata. Kesiapsiagaan harus menjadi kebiasaan yang dilakukan sebelum keadaan darurat terjadi.
“Kita tidak pernah tahu kapan bencana itu terjadi. Tetapi kalau kita mempunyai literasi tentang mitigasi dan kesiapsiagaan, kemudian itu menjadi budaya, kita akan tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi,” katanya.
Menurutnya, kemajuan teknologi memang memberikan kemampuan yang semakin baik dalam mendeteksi berbagai perubahan aktivitas alam. Namun teknologi tersebut tetap membutuhkan masyarakat yang memahami informasi dan mampu meresponsnya.
“Seberapa canggih pun alat yang kita punya untuk mendeteksi bencana, kalau tidak diimbangi dengan sikap masyarakat, tentu akan sangat percuma dan sia-sia,” ucap Surono.
Pentingnya membangun masyarakat yang memiliki literasi kebencanaan juga menjadi perhatian pemerintah. BNPB pada 2026 menekankan penguatan literasi kebencanaan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat sekaligus memperkuat budaya sadar bencana sebagai fondasi masyarakat tangguh.
Bahkan, pedoman BNPB menempatkan peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai ancaman di sekitarnya, kemampuan melakukan evakuasi, penyusunan rencana kesiapsiagaan, hingga perubahan perilaku sehari-hari sebagai bagian yang perlu diperhatikan dalam sosialisasi penanggulangan bencana.
Surono menambahkan, membangun budaya kesiapsiagaan membutuhkan proses panjang. Masyarakat perlu terus diajak berbicara dan dilibatkan, bukan hanya diberi informasi ketika terjadi peningkatan aktivitas gunung api atau ketika bencana telah berlangsung.
Dengan pendekatan yang humanis, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima peringatan, tetapi memahami alasan di balik setiap imbauan dan mampu mengambil tindakan secara mandiri. Pada akhirnya, menurut Surono, mitigasi bukan sekadar persoalan seberapa canggih alat yang dimiliki pemerintah.
Teknologi dapat memberikan peringatan, tetapi pengetahuan, kesadaran, dan kesiapan masyarakatlah yang menentukan apakah peringatan tersebut benar-benar mampu mengurangi risiko. Kesiapsiagaan pun perlu dibangun jauh sebelum bencana datang, sehingga ketika ancaman muncul, masyarakat tidak lagi bertanya apa yang harus dilakukan, tetapi sudah mengetahui langkah yang harus diambil.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....