Gempa NTT Jadi Pengingat Perkuat Mitigasi Kegempaan
- 20 Agt 2026 08:28 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur menjadi pengingat penting bagi masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kegempaan.
Dosen Seismologi Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Kadek Hendrawan Palgunadi, mengatakan kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan tektonik aktif membuat ancaman kegempaan perlu terus diwaspadai.
Menurutnya, kondisi tersebut harus diimbangi dengan sistem pemantauan yang kuat, pemetaan wilayah rawan gempa, serta mitigasi yang dilakukan secara berkelanjutan. “Indonesia secara kondisi geografis memang aktif secara tektonik, sehingga kemungkinan terjadinya bencana kegempaan semakin banyak. Jadi kewaspadaan kita memang harus ditingkatkan,” ujar Kadek saat diwawancarai RRI Surabaya, Rabu, 19 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, salah satu aspek penting dalam menghadapi ancaman gempa adalah memastikan sistem monitoring berjalan dengan baik. Keberadaan stasiun pemantauan dan instrumen kegempaan dibutuhkan untuk memperoleh data aktivitas gempa secara cepat dan akurat.
Selain pemantauan, pemetaan wilayah rawan gempa juga menjadi bagian penting dalam mitigasi. Dengan mengetahui karakteristik wilayah dan sumber ancamannya, upaya pengurangan risiko dapat disusun lebih tepat, termasuk dalam menentukan langkah kesiapsiagaan masyarakat.
Data yang dipublikasikan ITS menunjukkan penguatan pemantauan seismik dan mikrozonasi masih perlu terus dikembangkan. Mikrozonasi diperlukan untuk mengetahui karakteristik tanah dan potensi penguatan guncangan di suatu wilayah. Penambahan instrumen pengukur getaran tanah juga menjadi bagian penting dalam memperkuat pemantauan kegempaan.
Kadek menilai upaya mitigasi tidak dapat hanya mengandalkan satu pendekatan. Keterbatasan anggaran untuk membangun dan memperkuat infrastruktur pemantauan maupun bangunan tahan gempa menjadi salah satu tantangan yang masih perlu dihadapi.
Salah satu upaya yang dapat diperkuat, menurutnya, adalah meningkatkan kesadaran masyarakat melalui edukasi dan sosialisasi kebencanaan. “Kalau kita bicara tentang struktur bangunan yang tahan gempa, ini agaknya masih menjadi pekerjaan rumah. Karena memang membutuhkan biaya yang sangat besar,” katanya.
Karena itu, Kadek menekankan mitigasi tidak cukup hanya dilakukan melalui pembangunan fisik. Edukasi masyarakat, sosialisasi, pemetaan risiko, monitoring, hingga kesiapan menghadapi kondisi darurat perlu berjalan secara bersamaan.
“Jadi mungkin kita harus melihat mitigasi yang lain juga, terutama untuk wilayah-wilayah yang memang rawan terjadi bencana. Awareness masyarakat harus terus kita tingkatkan,” ujarnya.
Keterlibatan akademisi, lanjut Kadek, menjadi salah satu bagian dalam membangun kesadaran tersebut. Bersama rekan-rekan di ITS, edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman mengenai ancaman gempa sekaligus langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana.
Upaya tersebut penting karena sumber gempa di Indonesia tidak hanya berada di Nusa Tenggara. Jawa Timur juga memiliki sejumlah struktur tektonik yang perlu menjadi perhatian. Data BMKG menunjukkan Jawa Timur dan Madura berada di sekitar jalur sesar aktif, termasuk Sesar Kendeng serta Zona Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala. BMKG juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat, penerapan persyaratan bangunan tahan gempa, serta tata ruang berbasis peta rawan bencana sebagai bagian dari mitigasi.
Sementara itu, kajian yang dipublikasikan ITS menyebut keberadaan sesar aktif tidak serta-merta berarti gempa besar akan segera terjadi. Gempa bumi hingga kini juga belum dapat diprediksi secara pasti, sehingga pengurangan risiko melalui kesiapsiagaan menjadi langkah yang lebih realistis.
Kadek menegaskan, kejadian gempa di Nusa Tenggara Timur seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan, bukan justru menimbulkan kepanikan. “Yang penting dari kejadian seperti ini adalah bagaimana kita kemudian menjadi lebih aware, lebih siap. Karena kita tahu Indonesia ini memang wilayah yang aktif secara tektonik,” katanya.
Menurutnya, kesiapsiagaan harus menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat. Pemerintah, akademisi, dan masyarakat perlu berjalan bersama untuk memperkuat monitoring, pemetaan, edukasi, serta berbagai bentuk mitigasi agar risiko dan dampak gempa dapat ditekan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....