Unesa Pastikan Pendidikan Anak Korban Bencana Tetap Berjalan di NTT

  • 30 Agt 2026 14:56 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Dibalik pelaksanaan event lari Medic Run, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) membawa misi bertajuk Unesa Peduli bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui program sekolah darurat, Unesa berupaya menjaga hak pendidikan anak yang masih berada di pengungsian. Tim Unesa Peduli Bencana dijadwalkan berada di NTT pada 3-7 September 2026. Selain sekolah darurat, tim juga membawa program layanan kesehatan, dukungan psikologis, logistik, dan bantuan kemanusiaan.

Direktur Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis Kampus (PPIS) Unesa, Mutimmatul Faidah, mengatakan misi tersebut melibatkan sejumlah unsur di lingkungan kampus. Tim terdiri dari berbagai bidang yang disiapkan untuk merespons kebutuhan masyarakat terdampak bencana.

“Tim Unesa Peduli Bencana terdiri dari kolaborasi antara Fakultas Kedokteran, Fakultas Psikologi, kemudian Subdit Mitigasi Krisis Center, Satgas PPKPT dan juga dukungan dari LPPM Unesa,” kata Mutimmatul selepas Unesa Medic Run, Minggu, 30 Agustus 2026.

Selama berada di NTT, tim Unesa akan berpusat di Posko Manggarai. Pelaksanaan program juga menggandeng Universitas Nusa Cendana, Flores, serta Universitas Katolik Santu Paulus agar bantuan sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.

Salah satu program utama yang disiapkan adalah sekolah darurat bencana. Program tersebut ditujukan bagi anak-anak korban bencana yang masih berada di pengungsian agar proses belajar tidak terhenti.

“Yang ketiga adalah sekolah darurat bencana untuk memastikan keberlanjutan pendidikan bagi anak-anak korban bencana yang saat ini sedang berada di pengungsian dan tentunya kita akan memberikan support berupa logistik serta bantuan kemanusiaan lainnya,” ujarnya.

Mutimmatul mengatakan pendampingan pendidikan akan tetap dilakukan setelah tim Unesa meninggalkan NTT. Monitoring dilakukan secara daring dan dilengkapi pendampingan bagi guru di wilayah terdampak.

Para guru juga akan dihimpun untuk mendapatkan pelatihan sehingga mampu mendampingi anak-anak selama proses pemulihan pascabencana. Langkah tersebut diharapkan membuat aktivitas pendidikan tetap berjalan meski kondisi belum sepenuhnya normal.

“Sekolah tidak boleh berhenti dalam kondisi apa pun. Kenapa? Karena pendidikan adalah investasi yang terpenting dalam masa depan bangsa kita,” tegas Mutimmatul.

Langkah Unesa tersebut mendapat dukungan dari Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) dan Forum Rektor Indonesia (FRI). Ketua MRPTNI Eduart Wolok menilai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan.

“Perguruan tinggi bukan hanya hadir di dalam kampus, tetapi juga hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” kata Eduart.

Eduart mengapresiasi konsistensi Unesa dalam merespons bencana di berbagai daerah, termasuk Aceh dan NTT. Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi dapat membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak.

“Perguruan tinggi sekali lagi bisa hadir untuk bantu meringankan apa yang dialami oleh saudara-saudara kita yang terdampak bencana,” ujarnya.

Ketua FRI Garuda Wiko juga menyatakan dukungannya terhadap program Unesa Peduli Bencana. Ia menilai aksi tersebut menjadi bentuk empati perguruan tinggi terhadap masyarakat yang sedang menghadapi kondisi sulit akibat bencana.

“Kita sangat mendukung kegiatan ini. Ini juga kepedulian perguruan tinggi terutama yang tergabung dalam FRI dan MRPTNI,” kata Garuda.

Selain mengirim tim kemanusiaan, Unesa menyiapkan dukungan pendidikan bagi mahasiswa asal NTT yang terdampak bencana. Mahasiswa tersebut akan mendapatkan beasiswa hingga menyelesaikan pendidikan.

“Di Unesa sendiri kepada mahasiswa yang kebetulan dari NTT dan terdampak akan diberikan beasiswa oleh Pak Rektor Cak Hasan sampai dengan selesai,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....