Ustaz Nur Adi: Dunia Bukan Tujuan Utama
- 12 Agt 2026 10:05 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Dunia dengan segala harta dan kenikmatannya bukanlah tujuan akhir kehidupan manusia. Dunia merupakan sarana untuk menjalankan amanah, berbuat kebaikan dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.
Hal tersebut disampaikan Ustaz Nur Adi Septanto, Sekretaris PW Persis Jawa Timur, dalam program Mutiara Pagi RRI PRO 1 Surabaya, Rabu, 12 Agustus 2026, dengan tema “Dunia Ini untuk Siapa?”
Dalam tausiyahnya, Ustaz Adi mengajak masyarakat melakukan muhasabah dengan melihat bagaimana posisi diri dalam menyikapi harta dan ilmu. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW dalam Jami' at-Tirmidzi Nomor 2325, yang menggambarkan empat golongan manusia dalam menyikapi dunia.
| Baca juga: Kesuksesan Abadi dalam Islam |
“Dalam hadis Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah menyatakan dunia itu untuk empat golongan,” ujar Ustaz Adi.
Golongan pertama adalah orang yang diberikan harta dan ilmu, sehingga mampu bertakwa kepada Allah, mengetahui hak Allah dan menggunakan hartanya untuk kebaikan. Golongan kedua adalah orang yang memiliki ilmu tetapi tidak memiliki harta. Meski belum mampu beramal dengan hartanya, ia memiliki niat yang jujur untuk melakukan kebaikan jika diberikan kelapangan rezeki.
Sementara golongan ketiga adalah orang yang memiliki harta tetapi tidak memiliki ilmu. Harta tersebut digunakan secara tidak tepat, di antaranya dengan menghamburkannya, tidak menjaga silaturahmi dan tidak mengetahui hak Allah.
Adapun golongan keempat adalah orang yang tidak memiliki harta maupun ilmu, tetapi memiliki keinginan untuk menggunakan harta dalam perkara yang tidak baik. Ustaz Adi mengajak masyarakat menjadikan empat golongan tersebut sebagai bahan introspeksi.
“Dari kelompok ini kita renungkan, kita ada di kelompok mana. Idealnya ada di kelompok satu. Kalau kita punya ilmu, kita bisa mengelola harta dengan baik. Kalau kita punya harta, kita bisa melengkapinya dengan ilmu,” katanya.
Menurutnya, kehidupan ideal seorang Muslim tidak cukup hanya memiliki harta atau ilmu. Keduanya harus dilandasi iman dan diwujudkan dalam amal. Hal ini sejalan dengan Surat Al-Mujadilah ayat 11, yang menjelaskan bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.
Ustad Adi juga mengingatkan agar dunia tidak ditempatkan sebagai tujuan utama kehidupan. Ia menyampaikan hadis tentang orang yang menjadikan akhirat sebagai perhatian utamanya. Allah akan menyatukan urusannya, memberikan kekayaan dalam hatinya, dan dunia akan datang kepadanya. Sebaliknya, orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama akan dicerai-beraikan urusannya dan selalu merasa kekurangan.
“Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidupnya akan dicerai-beraikan urusannya dan selalu tidak puas. Sementara orang yang menomorsatukan akhirat akan disatukan urusannya dan diberi kekayaan hati,” ujarnya.
Menurutnya, bukan berarti umat Islam harus meninggalkan dunia. Bekerja, mencari rezeki dan memiliki harta tetap diperbolehkan, selama semuanya menjadi sarana untuk beribadah dan memberikan manfaat.
Ustad Adi juga mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari ujian dan cobaan. Menurutnya, ujian bukan semata-mata bentuk kesulitan, tetapi dapat menjadi proses pemurnian iman dan pembentukan karakter seseorang.
Hal tersebut sejalan dengan Surat Al-Ankabut ayat 2-3, yang mengingatkan bahwa manusia akan diuji untuk membuktikan keimanannya. “Ujian dan cobaan hidup adalah proses pemurnian iman dan karakter seseorang. Dari ujian itu akan terlihat bagaimana seseorang bersikap, apakah ia sabar, bertawakal dan semakin dekat kepada Allah,” tuturnya.
Ustad Adi mengajak masyarakat menjadikan kehidupan dunia sebagai kesempatan untuk terus memperbaiki diri dengan beriman, berilmu dan beramal. Harta tidak sekadar dikumpulkan, ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan, dan iman tidak hanya diyakini, tetapi diwujudkan dalam amal yang memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun sesama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....