Hak Jalan, Latihan Kontrol Diri menuju Keselamatan

  • 19 Agt 2026 07:16 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Hak jalan dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan etika ketika berada di jalan, tetapi juga menjadi latihan bagi setiap Muslim untuk mengendalikan diri dan menghormati hak orang lain. Hal tersebut disampaikan Ustaz Fatahillah Anggota Dewan Hisbah PP PERSIS Jawa Timur, dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Surabaya, Rabu, 19 Agustus 2026.

Menurut Ustad Fatahillah, manusia tidak pernah lepas dari perjalanan atau safar. Perjalanan dapat dilakukan untuk berbagai keperluan, mulai dari mencari rezeki, menuntut ilmu hingga menjalankan ibadah.

Pandangan mengenai perjalanan tersebut dapat dikaitkan dengan firman Allah SWT dalam QS Az-Zukhruf ayat 10: Yang menjadikan bumi sebagai tempat menetap bagimu dan Dia menjadikan jalan-jalan di atas bumi untukmu agar kamu mendapat petunjuk.”

Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa jalan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Allah SWT menyediakan jalan-jalan di muka bumi agar manusia dapat menuju tujuan. Karena itu, perjalanan tidak semata-mata berbicara tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk belajar memilih arah dan memperoleh petunjuk.

Dalam perspektif Islam, perjalanan tidak hanya dimaknai secara fisik. Manusia juga menjalani perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meraih keselamatan dunia maupun akhirat.

Jika perjalanan fisik membutuhkan jalan sebagai sarana untuk mencapai tujuan, maka perjalanan spiritual membutuhkan pedoman berupa Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Dari sinilah hak jalan dapat dimaknai sebagai latihan kontrol diri. Ketika berada di jalan, seseorang berhadapan dan berinteraksi dengan orang lain. Ada hak orang lain yang harus dihormati dan ada tindakan yang harus dikendalikan agar tidak menimbulkan bahaya maupun gangguan.

Prinsip tersebut sejalan dengan hadis Rasulullah SAW tentang hak jalan yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa hak jalan di antaranya adalah menundukkan pandangan, menahan diri dari mengganggu orang lain, menjawab salam, serta mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hadis tersebut berstatus sahih dan diriwayatkan secara muttafaq ‘alaih.

Ajaran tersebut menunjukkan bahwa jalan merupakan ruang bersama yang mempertemukan berbagai kepentingan. Karena itu, keselamatan tidak hanya bergantung pada aturan yang berlaku, tetapi juga pada kemampuan setiap orang mengendalikan dirinya.

Kontrol diri dapat dimulai dari hal sederhana. Bagi pengendara, misalnya, dengan tidak memaksakan kehendak, memberikan kesempatan kepada pengguna jalan lain, menjaga pandangan, mengendalikan emosi dan tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan orang lain. “Ketika kita mampu menjaga hak orang lain, sebenarnya kita sedang menjaga keselamatan diri sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, prinsip hak jalan juga relevan diterapkan di ruang digital. Media sosial menjadi ruang pertemuan banyak orang dengan latar belakang, pemikiran dan kepentingan yang berbeda.

Karena itu, pengguna media sosial juga membutuhkan kontrol diri. Menahan diri dari komentar yang menyakiti, tidak menyebarkan kebencian, tidak mudah terpancing emosi, menjaga pandangan dari konten negatif dan menyampaikan kebaikan merupakan bagian dari etika dalam menggunakan ruang digital.

Ustaz Fatahillah menilai, baik jalan secara fisik maupun ruang digital sama-sama membutuhkan aturan dan pengendalian diri agar keberadaan seseorang tidak merugikan orang lain. Pada akhirnya, hak jalan bukan sekadar persoalan tertib berlalu lintas. Lebih dari itu, hak jalan menjadi latihan bagi seorang Muslim untuk mengendalikan hawa nafsu, menghormati sesama dan memilih jalan yang benar.

QS Az-Zukhruf ayat 10 mengingatkan bahwa Allah SWT telah menyediakan jalan-jalan di bumi agar manusia mendapat petunjuk. Maka, jalan yang kita tempuh dalam kehidupan bukan hanya perlu mengantarkan kita sampai pada tujuan, tetapi juga harus ditempuh dengan sikap yang benar.

Dengan kemampuan mengendalikan diri, menghormati hak orang lain dan mengikuti petunjuk Allah SWT, setiap perjalanan diharapkan tidak hanya membawa keselamatan di dunia, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar menuju keselamatan di akhirat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....