Abdulrahman Saleh, Pahlawan Serba Bisa yang Mengabdi untuk Bangsa
- 15 Agt 2026 05:21 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID,SURABAYA - Program Ngobras Pro 1 RRI Surabaya menghadirkan Zaki Yamani dan Zaki Rabbani dari Komunitas Begandring Soerabaia, Jumat, 14 Agustus 2026. Dipandu Joe Adi Yuanda, perbincangan berlangsung interaktif dengan melibatkan pendengar yang bergabung melalui sambungan telepon dan WhatsApp. Salah satu topik yang menjadi perhatian adalah sosok Pahlawan Nasional Abdulrahman Saleh.
Dalam dialog tersebut, Zaki Yamani menjelaskan bahwa Abdulrahman Saleh merupakan sosok multitalenta yang memiliki kiprah di berbagai bidang. Selain dikenal sebagai dokter dan akademisi, ia juga merupakan penerbang, tokoh penyiaran, pendidik, sekaligus pejuang kemerdekaan. "Abdulrahman Saleh ini sosok yang luar biasa karena menguasai banyak bidang, mulai dari kedokteran, penerbangan, pendidikan, sampai dunia radio," ujar Zaki.
Di bidang kedokteran, Abdulrahman Saleh dikenal sebagai ahli anatomi dan fisiologi serta pernah menjadi asisten dosen hingga profesor. Sementara di dunia penerbangan, ia belajar menerbangkan pesawat dari Adi Sucipto dan aktif dalam perkumpulan penerbangan yang saat itu banyak beranggotakan orang Belanda. Ia juga terlibat dalam misi penerbangan dan pengeboman di kawasan Ambarawa-Semarang menggunakan pesawat tua peninggalan Jepang.
Tidak hanya itu, Abdulrahman Saleh juga memiliki peran penting dalam sejarah penyiaran Indonesia. Sejak era 1930-an, ia aktif dalam perkumpulan penyiar pribumi dan radio amatir. Ia turut merintis pendidikan teknisi radio serta sekolah radio Angkatan Udara. "Beliau juga punya peran besar dalam sejarah radio Indonesia. Bahkan semboyan 'Sekali di udara, tetap di udara' sangat lekat dengan perjuangan beliau," ucap Zaki Rabbani.
Peran Abdulrahman Saleh semakin penting setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945. Ketika stasiun radio di Jakarta ditutup, pemancar dipindahkan ke Sekolah Kedokteran Salemba agar siaran perjuangan tetap dapat menjangkau berbagai wilayah Indonesia. Dari jaringan radio tersebut, informasi kemerdekaan dan pidato Bung Karno dapat disebarluaskan, termasuk hingga Yogyakarta dan Surabaya.
Pengabdian Abdulrahman Saleh berakhir tragis pada 29 September 1947. Pesawat yang membawanya bersama Adi Sucipto dan Adi Sumarmo membawa bantuan obat-obatan dari Singapura menuju Yogyakarta. Saat hendak mendarat, pesawat tersebut ditembak oleh pesawat Belanda hingga jatuh. "Yang dibawa adalah bantuan obat-obatan untuk rakyat Indonesia. Jadi gugurnya beliau dalam misi kemanusiaan sekaligus perjuangan mempertahankan kemerdekaan," kata Zaki Yamani.
Nama Abdulrahman Saleh kemudian diabadikan menjadi nama sejumlah fasilitas, termasuk Pangkalan Udara Bugis di Malang yang kemudian dikenal sebagai Bandara Abdulrahman Saleh. Ia juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada era 1970-an bersama Adi Sucipto dan Adi Sumarmo. Kiprahnya di bidang kedokteran, pendidikan, penyiaran, dan penerbangan menjadi alasan kuat atas penghargaan tersebut.
Melalui perbincangan di Ngobras Pro 1, Komunitas Begandring Soerabaia mengajak masyarakat untuk kembali mengenal sejarah dan keteladanan Abdulrahman Saleh. Sosoknya menunjukkan bahwa perjuangan untuk bangsa dapat dilakukan melalui berbagai bidang ilmu dan profesi. "Beliau meninggalkan warisan yang luar biasa. Dari tubuh manusia yang dipelajarinya sebagai dokter, teknologi radio yang dirintisnya, hingga langit yang dijelajahinya sebagai penerbang, semuanya diabdikan untuk Indonesia," kata Zaki Rabbani.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....