UNDP Tinjau Model Pengelolaan Sampah di Balas Klumprik Surabaya

  • 31 Jul 2026 22:03 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • Model pengelolaan sampah berbasis masyarakat di RW 05 Balas Klumprik mengintegrasikan lima komponen utama: pemilahan sampah, bank sampah, rumah kompos, budidaya maggot, dan urban farming.
  • Praktik baik pengelolaan sampah masyarakat ini mendapat pengakuan dari delegasi Clean Rivers dan UNDP Indonesia sebagai solusi efektif mencegah pencemaran sampah plastik ke sungai.
  • Kunjungan lapangan pada 31 Juli 2026 melibatkan berbagai pemangku kepentingan termasuk Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Pemerintah Kota Surabaya, akademisi, dan mahasiswa untuk mempelajari model pengelolaan sampah ini.

RRI.CO.ID, Surabaya – Pengelolaan sampah berbasis masyarakat di RW 05 Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, Surabaya, menarik perhatian delegasi Clean Rivers dan UNDP Indonesia. Model pengelolaan yang mengintegrasikan pemilahan sampah, bank sampah, rumah kompos, budidaya maggot, hingga urban farming dinilai menjadi contoh praktik baik dalam upaya mencegah pencemaran sampah plastik ke sungai.

Kunjungan lapangan yang berlangsung Jumat, 31 Juli 2026 itu turut dihadiri Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Pemerintah Kota Surabaya, akademisi, mahasiswa, serta Komunitas Gerakan Sedekah Sampah (GRADASI) Balas Klumprik. Rangkaian kegiatan diawali dengan pemaparan program, dilanjutkan peninjauan langsung ke sejumlah fasilitas pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Tenaga Ahli Menteri Koordinator Bidang Pangan Bidang Ketahanan Pangan, Infrastruktur Pendukung Pertanian, dan Lingkungan, Guntur Priambodo, menilai sistem pengelolaan sampah di Balas Klumprik telah menerapkan konsep yang komprehensif sejak dari sumbernya. "Di tingkat RW masyarakat sudah terlibat memilah sampah, memiliki bank sampah, rumah kompos, hingga mendistribusikan hasil pengolahannya. Ini menjadi contoh baik yang layak direplikasi di wilayah lain," ujar Guntur.

Menurutnya, seluruh sampah organik yang dihasilkan warga telah dimanfaatkan kembali. Kompos digunakan untuk mendukung urban farming, sedangkan hasil budidaya maggot dimanfaatkan sebagai pakan ikan sehingga menciptakan siklus ekonomi sirkular yang memberi nilai tambah bagi masyarakat.

Guntur mengatakan, apabila pola pengelolaan serupa diterapkan secara luas di Surabaya, volume sampah yang dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo dapat ditekan secara signifikan. Ia memperkirakan hanya sebagian kecil residu yang masih perlu dibuang ke TPA.

"Kalau model seperti di Balas Klumprik diterapkan di banyak RW, sampah yang masuk ke Benowo bisa jauh berkurang. Pengelolaan menjadi lebih murah, lingkungan lebih sehat, dan ekonomi sirkular masyarakat bisa berjalan," katanya.

Delegasi UNDP menebar benih ikan Patin di kolam ikan area Rumah Kompos, Pondok Manggala, Balas Klumprik, Wiyung - Surabaya (Foto: RRI/Abdul Wahab)

Ia menambahkan, penyelesaian persoalan sampah harus dimulai dari tingkat masyarakat. Dengan pemilahan sejak rumah tangga, sampah plastik tidak lagi terbawa ke saluran air maupun sungai sehingga risiko pencemaran dapat ditekan.

"Kalau persoalan sampah selesai di tingkat hulu, maka sampah plastik tidak akan masuk ke sungai. Bank sampah juga membuat sampah memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat," ucapnya.

Sementara itu, Associate Director Programmes and Impact Clean Rivers, Reinier van der Lely, menjelaskan Surabaya dipilih sebagai salah satu lokasi proyek percontohan bersama UNDP Indonesia karena memiliki tantangan pencemaran sampah yang membutuhkan penguatan kolaborasi lintas pihak. Ia menyebut selain Surabaya, program juga dijalankan di sejumlah daerah lain.

Fokus utama kerja sama tersebut ialah memperkuat upaya pencegahan sampah plastik agar tidak bermuara ke laut melalui pendekatan yang melibatkan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lokal. "Targetnya adalah membangun kolaborasi yang lebih kuat sehingga pengelolaan sampah di Surabaya semakin baik dan sampah plastik tidak sampai mencemari laut," kata Reinier.

Delegasi UNDP mendapatkan penjelasan mengenai proses pemilahan sampah di Bank Sampah, Pondok Manggala, Balas Klumprik, Wiyung, Surabaya (Foto: RRI/Abdul Wahab)

Di tingkat masyarakat, pegiat lingkungan Pondok Manggala Balas Klumprik, Hery, menjelaskan gerakan pemilahan sampah mulai digiatkan sejak 2023 setelah kawasan tersebut mengikuti program Surabaya Smart City. Sejak saat itu, partisipasi warga terus meningkat meski belum seluruh rumah tangga melakukan pemilahan secara mandiri.

Menurut Hery, apabila masih ditemukan sampah yang belum dipilah dari rumah, proses pemilahan tetap dilakukan oleh petugas kebersihan sebelum masuk ke tahapan pengolahan. Cara tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga agar seluruh sampah tetap dapat dimanfaatkan sesuai jenisnya.

"Kami belum bisa mengatakan seluruh warga sudah memilah sampah, tetapi jumlahnya terus bertambah. Kalau masih ada yang belum memilah, kami antisipasi melalui proses pemilahan di tahap akhir agar tetap bisa diolah," ujarnya.

Melalui kunjungan ini, pemerintah, UNDP Indonesia, Clean Rivers, dan Komunitas GRADASI berharap praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Balas Klumprik dapat direplikasi di berbagai wilayah. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat pengurangan sampah plastik dari sumbernya, menjaga kebersihan sungai, sekaligus mendukung terwujudnya Surabaya yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....