Pengelolaan Sampah di Kampung Oase Ondomohen Surabaya

  • 23 Agt 2026 19:07 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya — Upaya mewujudkan lingkungan hijau dan berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Di Kampung Oase Ondomohen, Surabaya, gerakan tersebut tumbuh dari kebiasaan warga dalam memilah sampah, mengolah limbah rumah tangga, memanfaatkan bank sampah, hingga mengembangkan urban farming di tengah keterbatasan lahan.

Kampung Oase Ondomohen menjadi salah satu contoh bagaimana pengelolaan lingkungan dapat berjalan secara partisipatif dengan prinsip bahwa sampah yang dihasilkan warga sebisa mungkin kembali memberikan manfaat bagi warga.

Pengelolaan sampah di Kampung Oase Ondomohen dimulai dari tahap paling sederhana, yakni pemilahan dari sumbernya. Warga telah terbiasa memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah masing-masing.

Sampah organik seperti sisa makanan, bonggol sayuran, kulit bawang merah, kulit bawang putih, kulit cabai, sisa buah, daun kering, rumput, dan berbagai sisa rumah tangga lainnya tidak langsung dibuang. Sampah tersebut dikumpulkan untuk kemudian diolah menjadi berbagai produk yang bermanfaat.

Salah satu pengolahannya dilakukan melalui keranjang Takakura untuk menghasilkan kompos. Selain itu, warga juga mengolah sampah organik menjadi pupuk cair atau eco-enzim. Pengolahan tersebut membuat sampah rumah tangga tidak sekadar menjadi limbah, tetapi dapat dikembalikan ke lingkungan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman.

Menariknya, pengelolaan tersebut membuat warga Kampung Oase Ondomohen nyaris tidak perlu membeli pupuk organik untuk kebutuhan urban farming mereka. Pupuk yang digunakan dapat diproduksi secara mandiri dari sisa-sisa rumah tangga.

Musmulyono, Salah satu tokoh Kampung Oase Ondomohen Surabaya saat berbincang bersama RRI Surabaya dalam program Beranda Astacita, Minggu 23 Agustus 2026 mengatakan inovasi pengelolaan sampah organik di Kampung Oase Ondomohen juga dilakukan melalui budidaya maggot. Sisa makanan rumah tangga yang masih dapat dimanfaatkan diberikan sebagai pakan maggot.

Setelah melalui proses budidaya, maggot yang telah dipanen dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ikan. Dengan demikian, terdapat siklus pemanfaatan yang saling terhubung: sisa makanan rumah tangga dimanfaatkan untuk budidaya maggot, kemudian maggot digunakan untuk mendukung kegiatan budidaya ikan.

"Penerapan Konsep ini, memperlihatkan bahwa pengelolaan lingkungan di Kampung kami tidak hanya berorientasi pada pengurangan sampah, tetapi juga pada pemanfaatan kembali sumber daya yang tersedia.Pada prinsipnya, apa yang dihasilkan warga, sebisa mungkin kembali memberikan manfaat bagi warga," ujarnya.

Mus Mulyono juga menjelaskan jika sampah anorganik, warga memanfaatkan keberadaan bank sampah sebagai salah satu sarana pengelolaan. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dikumpulkan, dipilah, dan kemudian disalurkan untuk mendapatkan nilai jual.

Pemilahan bahkan dilakukan secara lebih spesifik. Botol plastik, misalnya, dipisahkan berdasarkan bagian-bagiannya, mulai dari tutup botol, badan botol, cincin leher botol, hingga label.

Bagian-bagian tertentu yang masih memiliki nilai jual dapat dikumpulkan melalui bank sampah. Sementara itu, label botol yang tidak memiliki nilai jual dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pengisi ecobrick.

Melalui sistem tersebut, sebagian sampah anorganik dapat menghasilkan tambahan nilai ekonomi bagi warga. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat berubah menjadi sumber pemasukan sekaligus mengurangi beban sampah yang berakhir di tempat pembuangan.

Keterbatasan lahan di Kampung Oase Ondomohen mendorong warga untuk semakin kreatif dalam memanfaatkan sampah. Botol plastik tidak hanya digunakan sebagai wadah atau media tanam, tetapi juga dimanfaatkan untuk membuat berbagai produk ecobrick.

"Salah satu produk yang berhasil kami jual adalah sofa atau kursi yang dibuat dengan menyusun botol-botol plastik dan material pendukung lainnya secara sedemikian rupa sehingga menjadi produk yang dapat digunakan. Produk tersebut bahkan memiliki nilai ekonomi. Salah satu kursi ecobrick dengan ukuran tertentu dapat dijual dengan harga sekitar Rp150 ribu. Selain kursi, ada meja juga berbahan dasar botol plastik," ucapnya.

Pemanfaatan botol sebagai produk ecobrick sekaligus menjadi solusi atas keterbatasan ruang. Ketika jumlah wadah tanaman dari botol plastik sudah tidak memungkinkan untuk ditambah, botol-botol tersebut dapat dialihkan menjadi bagian dari produk furnitur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....