PJT I Ungkap Tantangan Pengelolaan Air Berkelanjutan Indonesia

  • 26 Jul 2026 12:53 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • Pengelolaan sungai dan danau di Indonesia menghadapi tantangan besar akibat perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, dan meningkatnya kebutuhan air.
  • Konferensi Sungai Indonesia 2026 diselenggarakan di Wana Wisata Mata Air Sumber Gempong, Mojokerto untuk mempertemukan komunitas peduli sungai dari berbagai daerah.
  • Kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan terhadap program Pertobatan Ekologis Nasional yang diinisiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.

RRI.CO.ID, Mojokerto - Pengelolaan sungai dan danau di Indonesia menghadapi tantangan besar di tengah perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, serta meningkatnya kebutuhan air. Isu tersebut menjadi sorotan dalam Konferensi Sungai Indonesia 2026 yang digelar di Wana Wisata Mata Air Sumber Gempong, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Sabtu, 25 Juli 2026.

Konferensi yang bertepatan dengan peringatan Hari Sungai itu mempertemukan komunitas peduli sungai dari berbagai daerah untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga dan memulihkan ekosistem sungai. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program Pertobatan Ekologis Nasional yang diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.

Dalam forum tersebut, Direktur Utama Perum Jasa Tirta I (PJT I) Fahmi Hidayat memaparkan sejumlah isu strategis terkait pemanfaatan air sungai dan danau. Menurutnya, sungai memiliki peran penting dalam menopang kehidupan masyarakat, mulai dari kebutuhan air bersih, pertanian, industri, energi, hingga pengendalian banjir.

Fahmi mengibaratkan sungai sebagai jaringan saraf dan pembuluh darah yang menghubungkan berbagai aktivitas kehidupan. Sejak masa lalu, sungai telah menjadi pusat berkembangnya peradaban manusia, baik untuk perdagangan, transportasi, pertanian, maupun aktivitas ekonomi lainnya.

Namun, pemanfaatan sumber daya air saat ini menghadapi berbagai tekanan. Perubahan tata guna lahan di wilayah hulu dan meningkatnya lahan kritis menyebabkan sedimentasi yang dapat mengurangi kapasitas tampungan waduk. Selain itu, perubahan iklim membuat pola ketersediaan air semakin sulit diprediksi, dengan risiko kelebihan air saat musim hujan dan kekurangan air ketika kemarau.

"Pemanfaatan air tidak hanya berbicara mengenai berapa banyak air yang dapat digunakan, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas, ketersediaan, dan keberlanjutannya agar tetap memberikan manfaat bagi generasi mendatang," ujar Fahmi.

Ia menegaskan, pengelolaan air harus berpegang pada lima prinsip utama, yakni adil, efisien, terukur, lestari, dan adaptif. Prinsip tersebut diperlukan agar kebutuhan masyarakat, aktivitas ekonomi, serta keberlangsungan ekosistem dapat berjalan secara seimbang.

Selain faktor lingkungan, peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi turut mendorong naiknya kebutuhan air. Kondisi ini membuat pengelolaan sumber daya air harus dilakukan secara terpadu agar kebutuhan rumah tangga, pertanian, industri, energi, dan lingkungan dapat terpenuhi secara proporsional.

Fahmi juga menyoroti pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap nilai air. Menurutnya, perencanaan, pendanaan, koordinasi antar instansi, serta pengawasan terhadap pelanggaran pemanfaatan sumber daya air perlu terus diperkuat.

Ia menilai keberhasilan menjaga sungai tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau pengelola sumber daya air. Peran komunitas peduli sungai dinilai penting untuk melakukan edukasi, pemantauan kondisi sungai, pencegahan pencemaran, hingga menggerakkan kegiatan konservasi di tingkat masyarakat.

Sebagai BUMN pengelola sumber daya air, PJT I menjalankan berbagai tugas mulai dari pengelolaan daerah aliran sungai, pengendalian kuantitas dan kualitas air, pemeliharaan infrastruktur sumber daya air, hingga mitigasi banjir di wilayah kerja perusahaan.

Melalui Konferensi Sungai Indonesia 2026, PJT I menegaskan komitmennya untuk memperkuat pengelolaan sumber daya air yang terpadu dan berkelanjutan. Kolaborasi dengan komunitas sungai di berbagai daerah menjadi langkah penting agar sungai tetap menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat dan generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....