Urban Farming di tengah Keterbatasan Lahan
- 23 Agt 2026 19:08 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang bagi warga untuk menghasilkan tanaman pangan maupun tanaman lainnya. Kampung Oase Ondomohen mengembangkan urban farming dengan memanfaatkan berbagai metode yang sesuai dengan kondisi lingkungan perkotaan.
Beberapa metode yang digunakan antara lain hidroponik, vertical garden, tabulampot, dan tasalampot. Warga juga memanfaatkan barang bekas seperti botol plastik dan galon air mineral sebagai media tanam.
Penggunaan metode vertikal dan wadah bekas memungkinkan tanaman tetap dibudidayakan meskipun ruang yang tersedia relatif terbatas. Botol plastik bekas dapat dimodifikasi menjadi media tanam, sedangkan sistem vertical garden memungkinkan tanaman ditempatkan secara bertingkat sehingga penggunaan ruang menjadi lebih efisien.
Praktik tersebut menunjukkan bahwa urban farming tidak selalu membutuhkan lahan luas. Dengan kreativitas, barang bekas dan ruang-ruang kecil di lingkungan permukiman dapat diubah menjadi area produktif.
Kegiatan pengelolaan lingkungan di Kampung Oase Ondomohen melibatkan peran mahasiswa sebagai pendamping masyarakat. Septiani Nurhasanah, mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Negeri Surabaya, turut mendampingi warga dalam kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan sampah dan pengembangan lingkungan kampung.
Septiani saat berbincang bersama RRI Surabaya dalam program Beranda Asta cita Minggu 23 Agustus 2026, mengatakan kampung oase ondomohen adalah contoh nyata lahan terbatas di tengah perkotaan namun warganya masih bisa memanfaatkan lahan tersebut untuk penghijauan dengan berbagai metode tanam, salah satunya hidroponik.
"Banyak tanaman buah dan sayur yang dihasilkan di kampung oase ondomohen ini. Dan apa yang ditanam oleh warga juga kembali ke warga. Disetiap sudut rumah warga banyak tanaman pangan yang bisa diolah untuk kebutuhan rumah tangga, jadi apa yang ditanam itu juga yang akan dimakan. Salah satu pembuktian bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari rumah, dari lingkungan sekitar," ucapnya.
Tidak hanya Septiani, Pendampingan juga dilakukan oleh Al Ilham Budi Aradea, mahasiswa Agribisnis Fakultas Vokasi Universitas Sebelas Maret. Keterlibatan mahasiswa memberikan ruang untuk berbagi pengetahuan sekaligus belajar secara langsung dari praktik masyarakat dalam mengelola lingkungan.
Ilham menyampaikan, saat ia bertugas mendampingi warga di kampung oase ondomohen, ia belajar banyak hal. Di kampung oase ondomohen warganya guyub rukun, kompak bergerak tanpa ada komando jika menyangkut soal penghijauan. Hal tersebut yang membuat ilham terpukau dengan kompaknya warga kampung.
"Menariknya, tanpa ada komando semua warga bergerak. Mulai dari menanam tanaman, memanen, bahkan membuat pupuk semuanya turun tangan. Meski memang prosesnya di awal mungkin penuh lika liku dan tantangan, tapi dengan hasil yang terlihat, cukup membuktikan komitmen warga di kampung ini sangat luar biasa,"ujarnya.
Kolaborasi antara warga dan mahasiswa tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa keberlanjutan lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Warga memiliki pengalaman dan praktik lokal, sedangkan mahasiswa dapat memberikan pendampingan berdasarkan pengetahuan yang diperoleh di lingkungan akademik.
Kampung Oase Ondomohen akhirnya tidak hanya menjadi ruang tinggal, tetapi juga ruang belajar bersama tentang bagaimana masyarakat perkotaan dapat membangun lingkungan yang lebih hijau dengan memanfaatkan apa yang mereka miliki.
Melalui semangat Kampung Bergerak Lingkungan Berdampak, praktik yang tumbuh di Kampung Oase Ondomohen menunjukkan bahwa perubahan menuju kampung hijau dapat dimulai dari rumah masing-masing: memilah sampah, mengolahnya, menanam di ruang yang tersedia, dan menjadikan lingkungan sebagai sumber daya yang dikelola bersama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....